TIGA KOTA YANG DIKUTUK OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja – Jumat,  30 September 2016) 

stdas0730“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Ayb 38:1,12-21; 39:36-38;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,7-10,13-14 

Dalam Bacaan Injil hari ini kita mendengar Yesus mengutuk beberapa kota di Galilea. Tidak kagetkah kita mendengar kecaman atau kutukan seperti ini keluar dari mulut Yesus? Rasa-rasanya ini bukanlah Yesus yang menegur dua bersaudara anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) ketika mereka menyarankan kepada Yesus untuk membinasakan penduduk sebuah desa Samaria yang tidak mau menerima Dia (lihat Luk 9:51-55). Yesus ini mengajar kita untuk “mengasihi musuh-musuh kita” dan “mendoakan orang-orang yang berbuat jahat terhadap diri kita” (Luk 6:27).

Dengan Yesus dan semua nabi kita menyadari bahwa segala bahaya dan tragedi berasal dari dosa. Kita berharap bahwa kita akan memberikan hidup kita dan menjauhkan skandal dari orang-orang kecil, “anak-anak muda, mereka yang murni, mereka yang inosen (Inggris: innocent). Kita berharap bahwa kita akan marah ketika orang-orang yang inosen tadi dijahati. Kita akan setuju dengan Kitab Suci bahwa kebencian terhadap kejahatan adalah awal dari hikmat-kebijaksanaan.

Lalu, dapatkah kita sekarang melihat suatu paradoks dalam kutukan-kutukan Yesus? Kata-kata “kutukan” yang diucapkan Yesus itu seperti suatu nubuat yang mengingatkan para pendosa akan konsekuensi-konsekuensi dosa apabila tidak disusul dengan pertobatan. Kata-kata “kutukan” Yesus itu merupakan suatu peringatan kepada kita, yang bisa saja berpikir bahwa diri kita adalah “orang bener” dan/atau “orang yang paling bener”. Kalau begitu halnya, maka apabila kita jatuh ke dalam dosa, kita tidak memiliki kerendahan-hati yang diperlukan agar dapat mengakui kelemahan-kelemahan kita sendiri. Kata-kata “kutukan” Yesus ini juga berfungsi untuk mengingatkan kita bagaimana belas-kasih (kerahiman) Allah yang tak terbatas itu membawa kebaikan berlimpah sehingga kejahatan pun dikalahkan.

Santo Paulus menulis, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16). Jadi, Kitab Suci ditulis a.l. untuk melakukan koreksi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kata-kata “kutukan” yang diucapkan oleh Yesus itu juga ditulis dalam rangka “koreksi” atas diri kita.

Walaupun kita tidak ingin bahwa para pendosa akan “dihabiskan” (secara literer/harfiah), kita tentunya boleh saja menginginkan agar kemakmuran duniawi merekalah yang “dihabiskan”. Jika diri kita sendiri yang harus dihukum sebagai koreksi atas dosa/kesalahan kita; jika kita menanggung penderitaan sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kita dan hal tersebut telah mencerahkan kita serta membawa hikmat-kebijaksanaan dan pertobatan; bukankah kita juga dapat menghasrati rahmat yang sama bagi mereka yang telah mendzolimi kita?

Jadi di sinilah misterinya dan instruksi yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus: bukan hanya berkat-berkat dari Allah, namun juga “kutukan-kutukan” yang terinspirasikan tersebut akan menyelamatkan kita, jika kita memiliki hikmat-kebijaksanaan untuk mengacuhkan pesan-pesan yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus itu. Semoga kutukan terhadap dosa pada saat ini juga didengar oleh para pendosa, sementara mereka masih mempunyai waktu untuk belajar dan mengambil hikmat daripadanya, dan kemudian melakukan pertobatan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku, seorang pendosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 30-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 25 September 2016 [HARI MINGGU BIASA XXVI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS