HANYA KARENA WAFAT DAN KEBANGKITAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 17 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus

 003-parable-sower

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14 

Petani macam apa yang membiarkan benih yang ditaburkan olehnya jatuh di pinggir jalan atau di tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri? Para petani mengetahui bahwa hasil tuaian dari benih yang ditaburkan di tanah yang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk tumbuh berbuah, daripada benih yang jatuh di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri. Sementara selalu ada saja sedikit harapan bahwa benih yang jatuh di tanah yang “tidak baik” paling sedikit dapat tumbuh berbuah (meskipun jauh kurang dari “tanah yang baik”), seorang petani yang menggarap “tanah yang tidak baik” itu harus memiliki keyakinan besar dan benih yang banyak agar mampu menuai dengan berkelimpahan.

Perumpamaan ini mengajar kita tentang bagaimana Yesus dengan penuh kemurahan hati melimpahkan rahmat dan kehidupan. Lukas menulis Injilnya untuk orang-orang Kristiani dengan latar belakang non-Yahudi (baca: Yunani), jadi bukan untuk orang-orang Kristiani Yahudi. Dalam perumpamaan ini dan juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya yang lain, Yesus mengajar bahwa pesan dan kuasa Injil bukanlah hanya bagi orang-orang Yahudi, melainkan juga bagi orang-orang non-Yahudi (kafir). Yesus mencurahkan rahmat dan kehidupan-Nya kepada semua orang dalam segala situasi. Yesus itu murah hati dan tidak mengenal diskriminasi.

Hasil benih yang ditabur di tanah yang baik biasanya berkisar dari tujuh sampai sepuluh kali lipat; namun dalam perumpamaan ini benih yang ditabur di tanah yang baik itu menghasilkan buah seratus kali lipat! Ini adalah hasil tuaian yang sungguh luarbiasa, berdasarkan standar apa pun yang kita gunakan. Hasil berlimpah ini datang ke tengah kehidupan kita sendiri hanya karena kematian dan kebangkitan Yesus. Karya Yesus menata kembali dunia sehingga sekarang kita dapat mengharapkan adanya panen yang berlimpah. Semua pembatasan dan rintangan yang menghalangi kita untuk menghasilkan buah telah diatasi, misalnya dosa dan kematian. Lebih lagi, kita dapat yakin bahwa Yesus sangat berhasrat untuk bekerja dengan kita agar kita dapat memberikan hasil yang melimpah bagi kerajaan-Nya.

Marilah kita berpaling kepada Yesus dan meyakini bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah mengubah tatanan dunia. Kita harus penuh harap bahwa selagi kita menaruh iman kita pada-Nya, maka kita akan mengalami kuat-kuasa dari kematian dan kebangkitan-Nya dalam kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Apabila kita menaruh rasa percaya pada kuat-kuasa ini dan mempercayainya, maka akan ada buah spiritual bahkan apabila kita tidak melihatnya secara langsung.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menghancurkan kuasa kematian dan dosa dan memberikan kepada kami kehidupan baru melalui kemenangan-Mu di atas kayu salib. Segalanya menjadi baru sekarang. Kami berdoa agar kami juga dapat menghasilkan buah yang berlimpah bagi-Mu dan bahwa rahmat dan kehidupan-Mu akan dialami oleh semua orang. Amin. 

Catatan: Bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA” (bacaan Injil untuk tanggal 17-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 13 September 2016 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS