PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 13 September 2016)

jesus-raises-widow-of-nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dalah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas  kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang  digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama,  baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 13-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  10 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements