SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, ALLAH JUGA MEMPUNYAI RENCANA BAGI HIDUP KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KELAHIRAN SP MARIA – Kamis, 8 September 2016)

 mary-14

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:18-23) 

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil lebih panjang: Mat 1:1-16,18-23 

Daftar keturunan atau “Daftar Nenek Moyang” yang digunakan oleh Matius untuk membuka Injilnya mengingatkan kita  bahwa rencana Allah tentang kedatangan Putera-Nya ke tengah dunia merupakan sesuatu yang telah lama dipersiapkan. Dari generasi yang satu ke generasi berikutnya, Allah bergerak menuju pemenuhan tujuan-Nya guna menarik kita kembali ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Dan, sejak awal, Allah memberi tanggung jawab yang paling mendalam dan bersifat intim guna pemenuhan rencana-Nya kepada Maria, sang perawan dari Nazaret. Sejak sediakala, Allah sudah memikirkan untuk membawa Maria masuk ke dalam panggung kehidupan manusia dan mempercayakannya sebagai perempuan yang akan mengandung dan membesarkan Putera-Nya yang kekal-abadi.

Peran yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam dalam makna sehingga memang tidak mudah untuk dikontemplasikan. Malaikat Agung Gabriel yang mengunjunginya menyapa Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kiranya kemurahan/kebaikan hati Allah yang dicurahkan kepada-Nya jauh melebihi kemurahan/kebaikan yang diberikan-Nya kepada orang-orang lain. Walaupun begitu, janganlah sampai kita salah. Apabila kita berpikir bahwa Maria begitu jauh di atas kita dan pengalamannya tidak berhubungan dengan pengalaman kita, maka kita salah. Untuk segala privilesenya sebagai ibu dari sang Juruselamat, Maria tetap bersatu dengan kita. Maria adalah yang terbaik di antara di antara kita, namun biar bagaimana pun juga dia tetap ada di tengah kita.

Pola yang digunakan oleh Allah dalam berurusan dengan Maria adalah juga pola yang digunakan-Nya dalam berurusan dengan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi hidup Maria, dan Ia mempunyai rencana-rencana bagi hidup kita juga. Pada pusat rencana-Nya bagi Maria adalah niat-Nya bahwa Putera-Nya akan hidup dalam dirinya, dan ia akan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Pada hakekatnya, itu adalah rencana-Nya bagi kita juga.

Setiap orang pada dasarnya bersifat unik dan merupakan karunia Allah yang tidak diulangi, bahkan dalam kelahiran kembar sekali pun. Terkait dengan keunikan kita sebagai pribadi, Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi yang khusus. Allah membuat rencana-Nya diketahui oleh kita dengan berbagai cara: melalui sikon yang sedang kita hadapi, melalui keluarga kita dan para sahabat kita, melalui berbagai talenta dan kesempatan kita. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi hidup kita. Seperti yang diperbuat-Nya dengan Maria, Allah mengundang kita untuk menerima panggilan-Nya dan untuk mengikut-Nya. Sebagaimana Dia menginginkan agar Maria memberi tanggapan terhadap Dia dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepadanya, demikian pula Allah ingin agar kita menerima misi unik kita dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan kita. Semoga kita semua menanggapi undangan Allah dengan pengharapan dan kepercayaan yang sama seperti yang dimiliki Maria.

DOA: Bapa surgawi, ini aku anak-Mu. Nyatakanlah lebih banyak lagi rencana-Mu bagiku. Kuatkanlah diriku dalam kuasa Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian aku dapat memenuhi panggilan dan misi yang Kaurencanakan bagi diriku sebagai murid Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS