ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 4 September 2016)

HARI MINGGU KITAB SUCI NATIONAL

jesus_christ_picture_013Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33).

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17

Membenci bapaknya dan ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan (Luk 14:26)? Bukankah Yesus mewartakan tentang kasih, bukan kebencian?

Tentu saja, Yesus memanggil kita untuk mengasihi setiap orang seperti dilakukan-Nya, termasuk keluarga kita sendiri. Namun Yesus juga dengan jelas menyatakan bahwa “keterikatan atau kelekatan” – walaupun pada keluarga sendiri – tidak dapat menjadi preseden terhadap pengabdian penuh kepada diri-Nya. Seperti telah dicontohkan oleh kehidupan banyak orang kudus, menjadi murid Yesus kadang kala menghadapi oposisi dari seorang atau lebih anggota keluarga. Apabila hal seperti  ini terjadi, kita harus menolak tekanan-tekanan dari pihak yang menentang, walaupun kita harus terus mengasihi mereka.

Yesus menjanjikan kehidupan kekal dalam kerajaan-Nya bagi mereka yang mengikuti-Nya. Namun apabila kita ingin berhasil dalam mengikuti Yesus sampai akhir, kita harus secara realistis melakukan “kalkulasi biaya”. Bayangkanlah kita sedang membangun sebuah rumah idaman. Berapa biaya konstruksinya? Apakah kita memiliki berbagai sumber daya yang diperlukan? Kemungkinan besar kita harus mengorbankan pengeluaran-pengeluaran uang untuk keperluan lain, agar tersedia cukup dana untuk pembangunan rumah idaman kita ini. Penyusunan anggaran dan pengawasannya menjadi hakiki dalam hal ini, kalau kita tidak ingin keteteran dalam hal keuangan sehingga jangan-jangan memaksa kita untuk menjual rumah yang baru setengah jadi, dengan merugi lagi!

Kita mengetahui pentingnya perencanaan untuk masa depan kita di dunia ini. Ada beberapa ungkapan dalam dunia bisnis yang menekankan pentingnya perencanaan,  misalnya “Failing to plan, you are planning to fail!” dan “Plan ahead, it wasn’t raining when Noah built the Ark”. Sekarang masalahnya adalah, apakah kita melakukan perencanaan masa depan kita di dalam Kerajaan Allah? Apakah kita melakukan investasi dalam surga atau hanya dalam hal-hal yang bersifat sementara saja? Kita harus mempertimbangkan faktor waktu, berbagai karunia dan talenta, serta segala sesuatu yang lain yang telah diberikan Allah kepada kita. Apakah kita (anda dan saya) menggunakan semua hadiah “gratis” dari Allah itu untuk melayani-Nya, …… untuk mengumpulkan bagi kita harta di surga (Mat 6:19-20)? Apakah kita (anda dan saya) bersedia menyerahkan/melepaskan apa saja yang diminta Allah dari kita demi cintakasih kita kepada-Nya?

Jikalau menjadi seorang murid Kristus mendatangkan kesusahan bagi kita dari waktu ke waktu, barangkali hal itu justru mengindikasikan bahwa kita berada di jalan yang benar. Ini adalah jalan yang sama yang dijalani oleh Yesus ketika menuju bukit Kalvari. Seperti juga Kristus, kita tidak perlu takut. Kita sungguh tidak memerlukan suatu polis asuransi atau “Plan B” atau suatu “exit strategy” apabila urusan pemuridan/kemuridan ini gagal di tengah jalan. Kita harus senantiasa ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahasetia. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sendiri selagi kita menghadapi tantangan-tantangan hidup sebagai pengikut Kristus. Bahkan ketika mengikuti Kristus ini menjadi “mahal”, kita tetap harus mengingat bahwa Yesus adalah “Imanuel” yang senantiasa menyertai kita (Mat 1:23; 28:20). Kita dibantu oleh Roh Kudus-Nya, dan segala sumber daya yang dimiliki-Nya tidak akan pernah habis.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar menjadi murid Kristus yang sejati, walaupun pada saat-saat biayanya kelihatan mahal. Melalui pertolongan Roh Kudus-Mu, aku memilih untuk mengikuti Kristus setiap hari dalam hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 4-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-9-13) 

Cilandak, 31 Agustus 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS