YESUS ADALAH SANG MEMPELAI LAKI-LAKI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 2 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. – Martir Revolusi Perancis

jesus_christ_picture_013Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40

Dalam masyarakat Israel kuno, berpuasa yang disertai doa dan pemberian sedekah merupakan karakteristik dari orang-orang yang paling saleh (lihat Dan 9:3). Sejarawan Romawi Tacitus menulis bahwa puasa adalah tanda dari orang-orang Yahudi (Histories, 4). Para pengikut Yohanes Pembaptis jelas mengikuti aturan puasa ini, demikian pula orang-orang Farisi (Luk 5:33). Orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, mengapa para murid-Nya tidak berpuasa?

Jawaban Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai sang mempelai laki-laki, sebuah lambang yang mengandung makna teramat signifikan bagi umat Israel, baik dilihat dari sudut alkitabiah maupun budaya. Tulisan-tulisan profetis dalam Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) sering membuat acuan kepada persatuan Allah dengan umat-Nya sebagai hubungan perkawinan (lihat Hos 2:19-20 dan Yes 54:5-8). Orang-orang Yahudi menghargai benar seorang mempelai laki-laki karena Yudaisme bertumpu pada kehidupan keluarga yang kokoh, di mana seorang bapa keluarga berfungsi sebagai instruktur pelajaran agama yang utama dalam keluarga. Delapan abad setelah kehidupan Yesus, seorang rabi Yahudi terkenal, Rabi Eliezer, menyatakan bahwa seorang mempelai laki-laki harus diperlakukan sebagai seorang raja. Pada masa Yesus dari Nazaret hidup di muka bumi ini dan mewartakan kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, Ia sebenarnya memainkan peranan terutama sebagai seorang guru agama dan membawa sukacita kepada keluarga-Nya yang terdiri dari para murid. Sukacita ini akan berkelanjutan sampai sang mempelai laki-laki meninggalkan mereka, suatu acuan pada perpisahan Yesus secara fisik karena kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (Luk 5:35).

KANTONG ANGGUR YANG BARUKemudian Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan menyampaikan dua buah perumpamaan: “Menambal baju yang tua dengan kain dari baju yang baru” dan “menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua” (Luk 5:36-38). Dua perumpamaan ini menunjukkan nilai dan kelengkapan dari ajaran Yesus, bahkan  sementara Dia mengakui nilai luhur dari karya Allah di Israel. Ajaran Yesus tidak boleh direduksi sebagai kain tambalan baru pada baju yang lama, dan baju yang lama itu (Israel) pun tidak boleh dibuang begitu saja. Demikian pula ajaran Yesus tidak boleh ditempatkan dalam batasan/kendala kantong anggur yang lama. Dan sementara orang-orang lebih menyukai anggur yang lama (Luk 5:39), mereka tidak boleh memandang anggur yang baru sebagai sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja.

Apabila kita mengakui karya Allah di Israel dan dalam diri Yesus, maka kita memperoleh pandangan sekilas tentang misteri yang ada dalam relasi antara Israel dan Gereja. Dalam ceramahnya di depan komunitas Yahudi di Mainz, Jerman pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Allah tidak pernah membatalkan Perjanjian Lama (Rm 11:29). Kemudian pada tahun 1986, pada waktu memberi ceramah di depan komunitas Yahudi di Australia, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Adalah ajaran  Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) dan Kitab Suci Kristiani, bahwa orang-orang Yahudi adalah kekasih Allah, yang telah memanggil mereka dengan panggilan yang tak dapat diubah.”

DOA: Allah, Bapa yang Mahapengasih, dari abad ke abad Engkau menghimpun sebuah umat bagi diri-Mu. Dengan demikian, walaupun kami sangat bergembira penuh syukur atas karya penyelamatan-Mu melalui Yesus Kristus, ingatkanlah kami selalu bahwa karya penyelamatan-Mu itu dimulai dalam dan melalui umat Israel yang sangat Kaukasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?” (bacaan tanggal 2-9-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 31 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS