PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [TAHUN C] – 22 Agustus 2016)

 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1,7-14) 

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24

“Besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati” (Sir 3:20).

Di mana pun tidak ada bukti yang lebih jelas tentang pengungkapan kebesaran Allah, kecuali dalam SALIB KRISTUS. Yesus, Raja Alam Ciptaan (lihat Yoh 1:3), yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal mengambil “jalan menurun” untuk masuk ke dalam dunia ciptaan-Nya sendiri sebagai seorang anak manusia. Bukankah terasa ironis namun menakjubkan bahwa inilah cara bagaimana Yesus memuliakan Allah Bapa? Bukankah menakjubkan bilamana kita menyadari bahwa karena perendahan diri Yesus itu, maka Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya NAMA di atas segala nama? …… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (lihat Flp 2:6-11).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, setiap kali kita menghadiri Misa Kudus, sebenarnya kita memperingati dua hal: “perendahan diri” (kedinaan) Yesus Kristus dan pada saat yang sama “kemuliaan”-Nya. Kita diundang untuk datang ke meja perjamuan Tuhan dengan segala kerendahan hati untuk melambungkan puji-pujian bagi nama-Nya – dan dalam prosesnya kita sendiri pun diangkat ke surga. Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” dan …… Ia memberi tempat tinggal-Nya sendiri kepada orang-orang yang sebatang kara. Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia …” (Mzm 68:6,7); bagi kita hal ini dapat diartikan mencapai kebebasan suatu hidup baru dalam Kristus.

Allah kita adalah Allah yang sangat menakjubkan. Allah kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung yang menyemburkan api yang menyala-nyala disertai angin badai, bunyi suara sangkakala yang menakutkan (lihat Ibr 12:18-19). Namun demikian Allah memanggil kita yang lemah dan berdosa ini ke dalam hati-Nya. Dalam Misa Kudus kita dapat menghadap hadirat-Nya, bergabung dengan para malaikat yang sangat banyak, yang memuji-muji kemuliaan Allah dan bersuka-ria dalam kasih-Nya – semua karena Dia merendahkan diri-Nya dan menawarkan kepada kita bagian dari warisan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Kerajaan Allah, dalam segala kemuliaan dan kuasanya itu hadir pada setiap perayaan Ekaristi? Hidup-Nya, rahmat-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya, semuanya terkandung dalam hosti kudus yang kita sambut. Bagaimana kemuliaan ilahi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata itu dapat terkandung dalam roti yang begitu sederhana, baik dalam bentuk maupun substansi fisiknya? Apa lagi yang dapat dihasrati oleh kita selain Yesus yang berdiam dalam diri kita dan mengangkat kita bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-14), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SENANTIASA BERPIHAK PADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 28-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 Agustus 2016 [Pesta S. Ludovikus IX, Raja – OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS