YESUS MENGASIHI ANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Jumat, 12 Agustus 2016) 

stdas0730Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yeh 16:1-15,60,63 atau Yeh 16:59-63; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6).

Kata-kata yang diucapkan Yesus ini dapat terdengar cukup keras bagi kita, teristimewa bila kita telah mengalami perceraian dengan pasangan hidup kita, atau jika hidup perkawinan seorang anggota keluarga kita atau sahabat kita telah berantakan. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus mengetahui apa yang dikatakan-Nya dan Ia yakin bahwa dalam kuat-kuasa Allah, Ia dapat menyembuhkan, bahkan menyembuhkan perkawinan yang separah apapun juga. Di sisi lain, pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian adalah suatu realitas traumatis yang dapat meninggalkan luka-luka mendalam dan tahan lama, … kepedihan batin yang bersifat menahun.

Pikirkanlah rasa sakit – luka batin – yang diderita oleh pasutri yang bercerai. Suatu relasi yang dimulai dengan cita-cita tinggi, sukacita, dan optimism telah merosot sampai terjerumus ke dalam penolakan, ketidakpercayaan, kemarahan, dan self-pity. Apa yang dahulu merupakan “satu daging” telah dicabik-cabik, dan hanya meninggalkan luka-luka mendalam tidak hanya dalam diri mantan pasutri tersebut, melainkan juga para anggota yang lain juga. Mereka dapat saja bertanya, bagaimana Yesus tega-teganya “menghukum” mereka tanpa belas kasih?  Jangan salah! Allah tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan (lihat Yoh 3:17). Yesus tidak ingin menghancurkan orang-orang dengan sekadar mengatakan kepada mereka apa saja kesalahan mereka.  Yesus ingin bertemu dengan kita di titik mana saja kita sedang berada dalam perjalanan hidup kita dan Ia menawarkan kesembuhan dan pemulihan kepada kita.

Jika anda telah bercerai, ketahuilah bahwa Yesus mengasihi anda, sama seperti sebelumnya. Yesus ikut ambil bagian dalam rasa sakit anda dan menderita bersama anda. Pikirkanlah pertemuannya dengan perempuan Samaria di dekat sumur (Yoh 4:4-42). Yesus tidak menghukum perempuan itu, walaupun ia telah kawin lima kali dan pada waktu itu sedang “hidup bersama” (kumpul kebo) dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus malah menggiring perempuan itu kepada suatu pertobatan sejati, menyembuhkannya, dan mengutusnya kembai ke kampungnya untuk memberitakan kepada orang-orang lain tentang diri-Nya.

Apakah kita berstatus menikah, bercerai atau belum/tidak menikah, kita semua perlu mengenal penyembuhan dari Allah. Bapa surgawi sungguh ingin menyembuhkan luka-luka dalam setiap perkawinan dan juga luka-luka mereka yang terkena dampak perceraian. Yesus ingin memperdamaikan kita, mentransformasikan kita, dan mengguanaan kita untuk memproklamasikan Kerajaan-Nya – siapa pun diri kita atau apa pun kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu. Yesus ingin sekali merangkul kita dan memberikan berkat-Nya kepada kita (lihat Mrk 10:16).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar dapat mengatasi semua perpecahan dalam keluarga kami masing-masing. Curahkanlah rahmat-Mu kepada setiap keluarga yang telah mengalami perceraian. Sembuhkanlah mereka dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar dari diri kami sehingga kami pun dapat menjadi saksi-saksi-Mu kepada dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 12-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 11 Agustus 2016 [Peringatan S. Klara dr Assisi, Perawan]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS