YESUS PUN AKAN BERTANYA KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Kamis, 4 Agustus 2016) 

saint-peter -100Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23) 

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19 

Di sini kita berjumpa dengan sebuah titik balik dari Injil, suatu bacaan yang menyatakan tidak hanya siapa Yesus sebenarnya, melainkan juga apa Gereja itu dan peranan Petrus di dalamnya. Ini dilanjutkan dengan prediksi Yesus yang pertama mengenai sengsara dan kematian-Nya.

Di dekat kota Kaesarea Filipi di bagian paling utara dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat fundamental kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”  (Mat 16:13). Beda dengan Injil Markus di mana Yesus menyebut diri-Nya dengan kata “Aku” (lihat Mrk 8:27), di sini Matius mencatat bahwa Yesus menggunakan gelar “Anak Manusia”, yang dalam Injil dipakai untuk menggambarkan Yesus dalam pelayanan-Nya serta sengsara-Nya di atas bumi dan juga kedatangan-Nya kembali ke dunia dalam kemuliaan (bdk. Mat 25:31; Dan 7:13). Pandangan atau pendapat tentang Yesus waktu itu memang tinggi, namun tidak ada yang sampai mengenali atau mengakui-Nya sebagai sang Mesias.

Herodus Antipas telah berbicara mengenai Yesus sebagai Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati (Mat 14:2). Orang-orang lain berpikir mengenai Elia yang datang kembali dan orang-orang lain lagi berpikiran mengenai nabi Yeremia (hal ini hanya ada dalam Injil Matius). Pada tingkatan tertentu khotbah-khotbah Yesus mungkin mengingatkan orang-orang akan nabi Yeremia, namun pada tahapan suntingan oleh Matius, Yeremia adalah nabi yang menderita yang membuat prediksi tentang kejatuhan Yerusalem dan sang nabi ditolak oleh orang-orang, suatu gambaran awal dari Yesus sendiri. Namun identitas menurut “kata orang” tidak cukup bagi para murid Yesus. Matius secara progresif telah memisahkan para murid dengan orang banyak, dan sekarang sampailah mereka kepada moment of truth yang tidak dapat dihindari…… pengakuan pribadi mereka tentang siapa Yesus itu.

Seperti biasanya dalam Injil, Petrus berbicara sebagai juru bicara para murid: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:17). Ini adalah pengakuan penuh bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinanti-nantikan itu. Pengakuan seperti itu belum pernah dibuat oleh murid Yesus yang mana pun sampai saat itu. Namun pemahaman Petrus yang orisinal tentang “Mesias” masih mengandung pengertian-pengertian seturut pemikiran politis dan duniawi masa itu. Hal itu dikoreksi oleh Yesus dengan cepat. Walaupun begitu, pengakuan Petrus itu merupakan pengakuan Kristiani yang benar. Petrus malah menambah dengan frase “Anak Allah yang hidup”. “Allah yang hidup” adalah yang digunakan untuk TUHAN dalam Perjanjian Lama untuk membedakan-Nya dengan ilah-ilah mati dari bangsa-bangsa lain. Pengakuan Petrus ini ditanggapi oleh Yesus dengan memberikan “tugas besar” kepada Yesus yang didahului dengan “ucapan bahagia”: “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. …… Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:17-19).

SIAPAKAH AKU INI - MAT 16Yesus memberi nama Petrus kepada Simon. Petrus (bahasa Aram: Kepha) berarti “batu karang”. Seperti perubahan nama Abram menjadi Abraham, maka perubahan nama Simon menjadi Petrus atau batu karang ini terfokus secara unik pada misinya. Abraham adalah gunung batu yang daripadanya umatnya terpahat, dan lobang penggalian batu yang dari padanya umat tergali (Yes 51:1-2). Petrus akan menjadi batu fondasi di atas mana Yesus akan membangun Gereja-Nya. Matius adalah satu-satunya kitab Injil yang menggunakan kata ekklesia (Gereja dalam bahasa Yunani, dua kali disebut; lihat Mat 18:17). Dalam Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani), ekklesia berarti sidang umat yang dipanggil ke luar dari Mesir oleh TUHAN. Di antara orang Kristiani kata ekklesia dengan cepat menggantikan kata yang lebih terbatas, yaitu “sinagoga” yang digunakan oleh bangsa Yahudi untuk sidang jemaat lokal mereka.

Pada janji-Nya untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, Yesus menambahkan satu janji lainnya yang cukup mengejutkan: “alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Di sini Yesus menjanjikan bahwa  Gereja-Nya tidak akan mati dari berbagai kekuatan yang memusuhinya, termasuk segala kuasa kegelapan. Kepada Petrus pribadi diberikanlah oleh-Nya “kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:19). Sungguh semuanya ini merupakan berkat bagi Petrus.Setelah itu Yesus mulai memberitahukan kepada murid-murid-Nya untuk pertama kalinya tentang penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga (Mat 16:21). Kita semua mengetahui bagaimana Petrus menanggapi pemberitahuan Yesus tersebut (lihat Mat 16:22) dan apa reaksi Yesus (Mat 16:23). Teguran Yesus itu kiranya membuat bingung Petrus. Ia tidak mampu membedakan antara dua tanggapannya. Dalam dua kesempatan itu, Petrus mencoba melakukan hal yang terbaik menurut pikirannya. Namun dua hal itu mengundang dua macam reaksi dari Yesus.

Tidak ada seorang rasul pun yang lebih dekat dengan Yesus daripada Petrus. Ketika peristiwa itu terjadi, Petrus sudah hidup segalang-segulung dengan Yesus untuk hampir tiga tahun lamanya. Akan tetapi, setelah sekian lama hidup bersama Yesus dan sekian banyak pelajaran yang diberikan Yesus, Petrus masih saja tidak selalu dapat membedakan antara suara Allah dan suara Iblis.

Kita tidak tahu apa yang memotivasi Petrus untuk mencoba meyakinkan Yesus agar tidak merangkul salib. Barangkali dia tidak ingin melihat Yesus pergi meninggalkan dirinya. Barangkali dia tidak dapat menanggung beratnya pikiran bahwa Guru-Nya akan menderita secara begitu tidak adil. Kita hanya tahu bahwa seperti juga Petrus, kita semua mempunyai mindsets yang sudah usang, yang walaupun didasarkan niat yang baik, akan tetap mempengaruhi kemampuan kita untuk melakukan discernment guna mendengar suara Allah yang sesungguhnya.

Jadi, apakah yang harus kita lakukan? Jawabnya: ikutilah jejak Petrus! Kita dapat membayangkan bahwa setelah episode ini Petrus secara privat bertemu dengan Yesus dan menanyakan kepada-Nya apa sebenarnya kesalahan yang telah dibuatnya. Kita juga dapat membayangkan bagaimana dengan sabar Yesus menjelaskan kepadanya, membuatnya lebih percaya diri agar dia dapat melakukan discernment terhadap gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati dan pikirannya.

Pertanyaan Yesus yang diajukan kepada para murid-Nya juga akan ditanyakan kepada kita masing-masing, teristimewa selagi kita membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci: “Siapakah Aku ini?” Jawaban terhadap pertanyaan Yesus ini adalah tanggung jawab kita masing-masing sebagai murid-Nya. Untuk menjawab pertanyaan Yesus itu, karunia untuk membeda-bedakan roh (discernment) adalah suatu keniscayaan. Allah memang senantiasa ingin menganugerahkan karunia yang khusus ini, namun hal ini memerlukan ketekunan dari pihak kita. Dalam setiap kesempatan yang ada, marilah kita bertanya kepada Roh Kudus apakah pikiran-pikiran kita dan tindakan-tindakan kita sesuai dengan rencana Allah atau melawan rencana Allah. Dengan berjalannya waktu kita pun dapat menjadi semakin yakin dan mampu melakoni perjalan ziarah kita di atas bumi ini seperti yang telah berhasil dilakukan oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, janganlah lewatkan daku. Ajukanlah pertanyaan-Mu kepadaku dan tolonglah aku agar supaya dapat menjawab pertanyaan-Mu sebagai murid-Mu yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-23), bacalah tulisan yang berjudul “KARUNIA MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan tanggal 4-8-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpresscom; kategori: 16-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 Agustus 2016 [Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiuncula) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements