SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 1 Agustus 2016)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79-80,95,102 

Pada awal pelayanan-Nya di depan publik, Yesus mengatakan kepada Simon Petrus dan Andreas, “Mari, ikutlah Aku” (Mat 4:19). Ketika Dia berjumpa dengan Yakobus, Yohanes dan Lewi (Matius), Yesus mengundang dengan kata-kata yang sama, dan mereka semua mengikuti-Nya juga. Pada hari ini, pada saat kita mendengar Misa Kudus, Yesus juga mengundang kita untuk datang dan mengikut Dia.

Panggilan untuk mengikut Yesus seringkali membangkitkan gambaran bahwa kita harus menyerahkan kehidupan kita dan sampai titik tertentu, dan hal ini memang benar. Namun apabila kita hanya berpikir mengenai apa-apa yang dilepaskan, maka kita akan salah sasaran, artinya kita luput melihat gambaran yang lebih besar. Manakala Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku”, maka fokus-Nya adalah terlebih-lebih pada apa yang akan kita terima, bukannya apa yang akan menjadi “biaya” kita. Di mana kita membaca adanya suatu tantangan, bahkan suatu ancaman, maka Yesus sesungguhnya mengundang kita dengan undangan-Nya yang penuh keramahan.

Nah, kita mungkin saja bertanya: Seandainya kita memenuhi panggilan Yesus itu, apakah yang akan kita terima? Apa saja privilese atau “hak-hak istimewa” yang akan diberikan kepada kita? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kurang tepat sasaran! Apa lagi yang dapat lebih memuaskan dan memberikan kepenuhan daripada relasi intim dengan Yesus? Setelah membersihkan dosa-dosa kita, Dia sekarang memberikan kepada kita roti kehidupan-Nya untuk kita makan – sepotong roti yang dapat membuat kenyang setiap rasa lapar yang pernah kita kenal dan alami.

Feeding_the_5000006Ketika Yesus memberkati roti-roti dan ikan-ikan dan memberikannya kepada para murid-Nya yang kemudian membagi-bagikannya kepada setiap orang, maka Dia lah yang sebenarnya mengambil inisiatif dan menyebarkan-luaskan undangan. Hal ini pulalah yang kemudian terjadi di Emaus, di mana Yesuslah – yang pada awalnya diundang untuk menginap – pada akhirnya berperan sebagai pihak yang mengundang  (lihat Luk 24:30-31). Orang-orang yang makan dapat merasakan apa artinya menerima undangan Yesus karena mereka merasa dipuaskan sampai benar-benar kenyang – bahkan roti dan ikan yang tersisa pun ada sebanyak dua belas bakul penuh.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kepuasan yang dirasakan oleh orang banyak pada peristiwa dalam Injil hari ini hanyalah merupakan semacam pra-gambaran dari kepuasan yang tersedia bagi kita dalam Misa Kudus (Perayaan Ekaristi). Orang-orang Yahudi dalam Injil hari ini diundang untuk makan roti duniawi, akan tetapi kita diundang untuk makan roti kehidupan kekal.

Oleh karena itu, pada hari ini dan seterusnya dalam perayaan Ekaristi Kudus, terimalah undangan Yesus Kristus. Datanglah mendekati-Nya sebagai apa adanya kita. Datanglah dengan bebas-merdeka. Datanglah dengan rasa lapar yang sungguh lapar. Datanglah dengan harapan. Datanglah, saksikanlah dan alamilah Yesus yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita yang terdalam. Datanglah dan nikmatilah. Semua ini adalah anugerah, karunia, pemberian dari Allah kepada kita yang serba gratis. Kapan lagi?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan. Engkau adalah makanan sejati untuk rohku. Tolonglah aku mengosongkan diriku sehingga aku dapat dipenuhi dengan diri-Mu. Tuhan Yesus, aku sungguh ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 1-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-8-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS