SANTO LAURENSIUS DARI BRINDISI 

2014072606saint (1)Hari ini, tanggal 21 Juli, Gereja memperingati Santo Laurensius dari Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja [1559-1619] dan keluarga besar Fransiskan merayaan pestanya.

Sekilas lintas, barangkali kualitas pribadi yang paling menonjol dari Laurensius adalah karunia khusus untuk menguasai banyak bahasa. Di samping pengetahuan dan penguasaan mendalam atas bahasa ibunya, Italia, orang kudus ini juga menguasai bahasa Latin, Ibrani, Yunani, Jerman, Bohemia, Spanyol dan Perancis.

Laurensius dilahirkan di Brindisi, Italia selatan (Kerajaan Napoli), pada tanggal 22 Juli 1559, dan meninggal dunia tepat 60 tahun kemudian pada hari ulang tahunnya di tahun 1619. Kedua orang tuanya, William dan Elisabet Russo, memberikan nama Julius Caesar (Italia: Giulio Caesare Russo). Kedua orangtuanya meninggal dunia cepat dan setelah itu Julius Caesar dididik oleh pamannya di Kolese S. Markus di Venisia.

Sejak masa kecilnya,  Julius Caesar sudah menunjukkan bakat yang luarbiasa, mengingatkan orang-orang akan Yesus yang masih berumur 12 tahun yang berbincang-bincang serius dengan para ahli Taurat Yahudi di Bait Allah. Di Italia ada adat-kebiasaan yang memperkenankan anak laki-laki untuk berkhotbah pada hari Natal di depan publik. Pada waktu Julius Caesar berumur 6 tahun, dia berkhotbah di katedral kota kelahirannya, dan khotbahnya membuat kesan mendalam di hati banyak orang yang hadir, dan banyak dari mereka mulai memasuki hidup Kristiani yang lebih mendalam.

Ketika berusia 16 tahun, Julius Caesar masuk Ordo Fransiskan Kapusin di Verona dan menerima nama biara Laurensius. Dalam biara, Laurensius sejak awal sudah menonjol sebagai “model kesempurnaan”. Ia selalu tepat waktu dalam menghadiri acara-acara komunitas biara, sempurna dalam ketertundukannya terhadap atasannya, penuh respek dan kasih terhadap para saudara-saudara yang lain.

Ia menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Universitas Padua dan ditahbiskan imam ketika berumur 23 tahun. Dengan segala bekal yang dimilikinya, Pater Laurensius mulai kehidupan misionernya. Pertama-tama dia mengunjungi berbagai kota di Italia: Venisia, Pavia, Verona, Padua, Napoli; karya missioner yang sukses. Kemudian dia dipanggil ke Roma oleh Paus Klemens VIII dan diberikan tugas untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi. Dengan kemampuannya menguasai beberapa bahasa, Laurensius mampu untuk mempelajari teks-teks Kitab Suci dalam bahasa aslinya. Pengetahuan bahasa Ibrani-nya begitu unggul sehingga para rabi Yahudi yakin sekali bahwa Laurensius adalah seorang Yahudi yang telah murtad menjadi Kristiani. Kelemahlembutan imam yang satu ini membuat banyak orang Yahudi dibaptis menjadi Kristiani.

Laurensius memiliki satu ciri pribadi yang barangkali tidak diharap-harapkan dari seorang terpelajar penuh talenta seperti dirinya, yakni sensitivitas/kepekaan terhadap kebutuhan orang-orang. Ia dipilih menjadi pimpinan Ordo Fransiskan Kapusin untuk Propinsi Tuscany ketika berumur 31 tahun. Ia memiliki perpaduan antara kecemerlangan (Inggris: brilliance), bela rasa manusiawi dan keterampilan administratif yang dibutuhkan guna melakukan tugas-tugasnya.

Pada tahun 1598 Pater Laurensius diutus ke Jerman bersama enam orang saudara Kapusin lainnya untuk mendirikan biara-biara di sana  dan juga untuk menghadapi arus reformasi Martin Luther yang mulai menancapkan kaki di Austria. Banyak orang Kristen Protestan kembali kepada iman Katolik. Kaisar Rudolf II mempercayakan tugas mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan tentara Turki Ottoman yang merupakan ancaman besar terhadap dunia Kristiani. Untuk tugas ini, Laurensius berfungsi sebagai seorang diplomat yang mengunjungi kota-kota utama di Jerman guna menjelaskan misinya kepada pangeran-pangeran, bernegosiasi dengan mereka, dan berkhotbah kepada publik.  Upayanya berhasil menggalang persatuan untuk melawan kekuatan Turki Ottoman.

Lawrence_of_BrindisiPater Laurensius diangkat menjadi kepala pendamping rohani pasukan besar dari seorang bangsawan yang bernama Matias yang pergi ke Hungaria pada tahun 1601 untuk berperang melawan pasukan Turki Ottoman. Walaupun penyakit rematiknya sangat serius, Pater Laurensius tetap berkuda, salib Kristus di tangan dan maju di depan para perajurit menuju medan tempur. Pandangan pertama atas lawan sangat menciutkan hati para prajurit Kristiani karena posisi lawan mereka sangat baik. Namun dalam nama Allah Pater Laurensius menjanjikan kemenangan bagi umat Kristiani, hal mana menginspirasikan mereka semua dengan keberanian luarbiasa. Dalam pertempuran itu pihak Turki Ottoman hancur berantakan.

Laurensius kembali ke Italia dan pada tahun 1602 Laurensius dipilih menjadi minister jenderal dari Ordo Fransiskan Kapusin. Dalam posisi ini dia bertanggung jawab untuk membuat agar ordo yang dipimpinnya bertumbuh-kembang dengan pesat, termasuk ekspansi secara geografis.

Laurensius kemudian diangkat menjadi utusan Paus dan pembawa damai, suatu pekerjaan yang membuatnya melakukan perjalanan ke sejumlah negara asing. Guna mencapai perdamaian dalam tempat kelahirannya, Kerajaan Napoli, Laurensius pergi mengunjungi raja Spanyol Philip III. Ternyata sang raja sedang berada di Portugal. Ia melanjutkan perjalanannya ke Portugal. Hasil pertemuan itu: pejabat Spanyol yang dengan kejam memerintah di Kerajaan Napoli dipecat. Misinya lagi-lagi berhasil. Kemudian penyakit serius di Lisboa (Portugal) merenggut nyawanya pada tahun 1619. Saudari Maut (badani) menjemput Pater Laurensius selagi bertugas melayani Allah dan sesama.

Kecintaan Laurensius pada sabda Allah dalam Kitab Suci, ditambah dengan kepekaannya terhadap kebutuhan-kebutuhan orang, menyajikan suatu gaya-hidup yang menarik bagi umat Kristiani zaman modern. Hidupnya menunjukkan keseimbangan antara disiplin-diri (self-dicipline) dan suatu penghargaan yang tekun terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang untuk siapa dia dipanggil untuk melayani.

Pada tahun 1956 Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap.) berhasil menyelesaikan penyusunan tulisan-tulisan Laurensius yang terdiri dari 15 volume. Sebelas dari 15 volume ini berisikan khotbah-khotbahnya, di mana masing-masing khotbah itu terutama mendasarkan diri pada petikan-petikan dari teks Kitab Suci untuk menggambarkan ajarannya. Satu tulisan adalah sehubungan dengan doktrin dan devosi kepada Bunda Maria.

Pater Laurensius dari Brindisi dibeatifikasikan pada tanggal 1 Juni 1783 dan dikanonisasikan sebagai seorang Santo pada tanggal 8 Desember 1881. Pada tahun 1959 Santo Laurensius dari Brindisi diangkat menjadi Pujangga Gereja.

Sumber: P. Marion A. Habig OFM, “THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS”, hal. 539-543; P. Leonard Foley OFM (Editor), “SAINT OF THE DAY”, hal. 167-169; WIKIPEDIA: “LAWRENCE OF BRINDISI”.

Jakarta, 21 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS