CIRI-CIRI PRIBADI SEORANG HAMBA TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 16 Juli 2016) 

jesus_christ_image_219

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 

Bacaan Pertama: Mi 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14 

Ada dua hal tentang Yesus di sini yang menunjukkan bahwa Dia tidak pernah mencampur-adukkan kenekatan dengan keberanian. Pertama-tama, untuk sementara waktu Yesus mengundurkan diri karena belum saatnya untuk berhadap-hadapan dengan para lawan-Nya dalam suatu konflik terbuka. Yesus masih mempunyai pekerjaan untuk dilakukan-Nya sebelum Ia ditarik oleh Salib. Kedua, Yesus melarang orang-orang untuk membuat publisitas tentang diri-Nya. Yesus sangat mengetahui bahwa banyak Mesias palsu yang bermunculan dan Ia mengetahui bahwa orang kebanyakan mudah dipengaruhi oleh Mesias-Mesias palsu tersebut.

Apabila mulai tersebar desas-desus bahwa telah muncul seseorang yang memiliki kuat-kuasa menakjubkan, maka hal tersebut akan memicu timbulnya suatu pemberontakan politis dan akan memakan banyak korban jiwa yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Yesus sangat menyadari bahwa Dia harus mengajar orang-orang bahwa kemesiasan bukanlah berarti menunjukkan kekuatan untuk gontok-gontokan melainkan melakukan pelayanan penuh pengorbanan, bukan sebuah takhta melainkan sebuah salib, sebelum mereka dapat menyebarkan cerita tentang diri-Nya ke seluruh dunia.

Pertanyaan yang digunakan Matius untuk meringkas pekerjaan Yesus (Mat 12:18-21) adalah dari Yes 42:1-4. Dalam artian tertentu ini merupakan petikan nas yang dapat mengundang perasaan ingin tahu atau pertanyaan, karena dalam instansi pertama nas itu mengacu kepada Sirus (Koresy), raja Persia (lihat Yes 45:1). Koresy naik takhta pada tahun 559 SM dan sejak itu maju terus dalam menaklukkan bangsa-bangsa di sekitar negerinya. Pada tahun 549 SM dia telah menaklukkan Media. Pada tahun 539 SM, Koresy mengalahkan pasukan Babel dan dengan demikian menjadi penguasa kerajaan yang terbesar yang pernah dilihat dunia sampai saat itu. Sang Nabi (Yesaya) melihat kemenangan-kemenangan penuh kejayaan dari Koresy atas bangsa-bangsa lain itu sebagai berada dalam rangka rencana pasti dari Allah. Walau pun dia sendiri tidak mengetahuinya, Koresy adalah instrumen Allah. Di samping itu Yesaya melihat bahwa Koresy adalah penakluk non-Yahudi. Akan tetapi, walaupun aslinya nas tersebut mengacu kepada Koresy, pemenuhan yang lengkap dari nubuatan itu tidak meragukan lagi terwujud dalam diri Yesus Kristus. Pada zamannya, raja Persia tersebut menguasai dunia sebelah timur, namun Raja sejati seluruh dunia adalah Yesus Kristus. Dengan demikian, marilah kita lihat betapa indahnya Yesus memuaskan nubuatan Yesaya.

Pertama-tama: Ia akan memberitahukan bangsa-bangsa, apa sebenarnya “keadilan” (Inggris: justice) itu. Keadilan dalam bahasa Yunani berarti memberi kepada Allah dan kepada orang-orang apa yang menjadi bagian mereka. Yesus menunjukkan kepada orang-orang bagaimana hidup sedemikian sehingga baik Allah maupun orang-orang memperoleh tempat mereka yang layak dalam hidup kita. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana berperilaku terhadap Allah dan sesama manusia.

Kedua: Yesus tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dengan suara seperti anjing yang menyalak, bunyi burung gagak atau seperti suara yang dikeluarkan para penonton pertunjukan sandiwara di teater yang kecewa. Apa arti semua ini? Yesus tidak akan cekcok dengan orang-orang lain. Jadi bukan seperti pertengkaran antara partai-partai politik yang bertentangan, di mana yang satu mencoba untuk menjatuhkan yang lain. Ada juga ideologi-ideologi yang saling berlawanan. Dalam Yesus ada keheningan mendalam seorang Pribadi yang berusaha untuk mengalahkan pihak lain dengan/oleh cintakasih, bukan dengan kata-kata yang sering menyakiti.

Ketiga: Yesus tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai dan juga tdak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Kesaksian seseorang bisa saja tidak teguh dan lemah, terang hidupnya mungkin bukan seperti api yang menyala-nyala; tetapi Yesus tidak datang untuk menghilangkan semangat orang itu, melainkan untuk mendorong dan menyemangatinya. Yesus tidak datang untuk memperlakukan orang lemah dengan memandang rendah/hina orang itu, melainkan datang dengan penuh pengertian; Ia tidak datang untuk memadamkan sumbu yang pudar nyalanya, melainkan memulihkankannya sehingga memancarkan terang yang lebih jelas dan lebih kuat. Hal paling berharga tentang Yesus adalah kenyataan bahwa Dia bukanlah Pribadi yang membuat orang menjadi ciut, melainkan mendorong dan menyemangati orang tersebut.

Keempat: Dalam Yesus, orang-orang non-Yahudi akan berpengharapan. Dengan kedatangan Yesus ke tengah dunia datang juga undangan kepada dunia sebuah undangan, bukan saja kepada satu bangsa, melainkan kepada seluruh umat manusia, untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Dalam Yesus, Allah bertemu dengan setiap orang guna menawarkan kasih-Nya.

Catatan: Uraian di atas merupakan adaptasi dari buku William Barclay, THE DAILY STUDY BILE – The Gospel of Matthew – Volume 2, hal. 32-34.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Putera Bapa yang datang ke tengah dunia untuk menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa dengan kasih sebagai motif dasar. Dengan kedatangan-Mu ke dunia seluruh umat manusia diundang untuk ikut ambil bagian dalam dan menerima kasih Allah. Engkau adalah Imanuel, Allah yang beserta kami semua. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOTIF YESUS ITU SEDERHANA: KASIH!” (bacaan tanggal 16-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

Cilandak, 12 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements