SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 14 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Fransiskus Solanus [1549-1610], Imam Ordo I 

COME TO ME“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 26:7-9,12,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:13-21

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat”  (Mat 11:28).

Yesus mengundang semua orang yang letih lesu dan berbeban berat, agar supaya mereka datang kepada-Nya. Undangan ini memanggil mereka untuk berada di dekat-Nya. Berguru pada para ahli Taurat sungguh tidak menyenangkan, sebab mereka itu adalah guru-guru yang tinggi hati, yang memandang rendah para murid mereka serta meletakkan pada bahu para murid mereka pikulan yang keras dan beban yang berat. Sebaliknya Yesus adalah Guru yang baik hati dan lemah lembut, yang kata-kata-Nya dapat dipahami orang. Dan Yesus pun menjadikan beban kehidupan kita menjadi ringan, karena Dia membantu memikul beban kita  itu dengan rahmat serta cintakasih-Nya.

Orang-orang kecil ini, kepada siapa Allah telah mewahyukan hal itu, akan menjadi besar karena Dia. Oleh-Nya orang-orang lemah itu dijadikan kuat. Sebaliknya orang-orang yang memiliki kebesaran semua akan berkerut habis-habisan di hadapan-Nya. Dan orang-orang yang tampaknya kuat akan jatuh ditindih beban yang disangkanya akan dapat dipikulnya sendiri, yang ternyata melampaui kekuatan mereka. Allah memilih yang lemah untuk dijadikan kuat dan membuang yang kuat, semua karena Dia menyerahkan mereka kepada kelemahannya sendiri. Allah memanggil yang kecil kepada kebesaran, sedangkan si-besar-semu diliputi kekecilannya sendiri.

Kadang-kadang beban kehidupan terasa tak habis-habisnya menindih kita. Kita harus menyediakan sandang-pangan-papan untuk diri kita dan keluarga kita. Dinamika hidup berkeluarga juga dapat mendatangkan ketegangan-ketegangan. Membesarkan anak-anak dalam sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan berbagai macam konflik yang melibatkan kekerasan sungguh merupakan sebuah “proyek” yang bukan main-main. Usia tua dan sakit-penyakit dapat menghadapkan kita dengan lebih banyak lagi ketidakpastian, rasa sakit dan tentunya biaya. Akan tetapi, di tengah-tengah begitu banyak tantangan, Yesus dengan hati-Nya yang mahakudus mengundang kita untuk memikul kuk/gandar yang dipasang-Nya agar dengan demikian Ia dapat memberikan ketenangan kepada jiwa kita (Mat 11:29).

Mengikuti jejak Kristus berarti kita memperkenankan Dia memancarkan cahaya terang-Nya ke dalam hati kita. Hal itu berarti bahwa kita memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk memberikan kekuatan yang kita perlukan agar dapat mentaati perintah-perintah-Nya. Hal itu berarti bahwa kita menjadi cukup rendah hati untuk membiarkan Yesus menyatakan kasih-Nya kepada kita dan menawarkan penyembuhan-Nya. Berjumpa dengan kasih yang begitu mendalam dan indah, tidak dapat tidak, hanya akan mentransformasikan kita! Situasi-situasi yang sulit menjadi kesempatan-kesempatan bagi rahmat Allah untuk bergerak dalam diri kita dan – melalui kerja sama kita dengan Dia – melalui diri kita kepada orang-orang lain.

Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih lesu dan berbeban berat, tidak hanya yang “suci” atau mereka yang memiliki kecenderungan untuk aktif terlibat dalam hal keagamaan. Siapa saja dapat menanggapi undangan Yesus itu disebabkan karena siapa Allah itu sebenarnya, bukan karena siapa kita ini. Melalui Yesus, Allah telah membebaskan kita dari berbagai beban kehidupan. Dengan kuat-kuasa-Nya dan pengantaraan-Nya (syafaat-Nya),  bahkan ketika Dia terasa jauh, Yesus senantiasa siap untuk memikul beban-beban kita. Yesus dapat dipercaya sepenuhnya dan Ia akan dengan setia memenuhi semua janji-Nya kepada kita.

Kita dapat beristirahat dan mendapat ketenangan di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat memeditasikan ayat-ayat Kitab Suci terkait belas kasih-Nya. Kita dapat merenungkan karunia besar yang kita terima dalam Ekaristi. Kita dapat mencari Yesus dalam diri orang-orang di sekeliling kita – teristimewa mereka yang menderita, melihat dalam diri mereka kebesaran Allah, bukan sekadar orang lain dengan siapa kita harus berelasi. Marilah kita memperkenankan Yesus memenuhi diri kita dengan kehadiran-Nya. Yesus sungguh rindu untuk mencurahkan kasih-Nya, menganugerahkan rahmat-Nya serta karunia-karunia hikmat, penyembuhan dan bahkan kuasa untuk mengadakan mukjizat. Tugas kita hanyalah memberikan kepada-Nya kesempatan.

DOA: Yesus, dalam kehadiran-Mu jiwaku mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu, datanglah Tuhan dan terangilah pikiranku dan transformasikanlah hatiku. Aku sangat merindukan kasih-Mu dan segala karunia yang Engkau ingin anugerahkan kepadaku pada hari ini. Yesus, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN” (bacaan tanggal 14-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-7-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juli 2016 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS