ENGKAU SEMBUNYIKAN BAGI ORANG BIJAK DAN ORANG PANDAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu,  13 Juli 2016)

GEMBALA YANG BAIK - 15Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Yes 10:5-7,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 94:5-10,14-15 

Bacaan Injil hari ini adalah sebuah doa syukur yang sangat indah dari Yesus kepada Bapa-Nya di surga. Dengan penuh syukur Yesus menghaturkan terima kasih-Nya kepada Bapa surgawi untuk para murid-Nya dan untuk pemahaman yang telah diberikan kepada mereka, yang secara intelektual sebenarnya hanyalah orang-orang kecil. “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).

Di sini Yesus memperlawankan atau mengkontraskan “orang kecil” (para murid-Nya), dengan orang-orang dengan pendidikan tinggi dan orang-orang bijak, khususnya para ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus mengakui bahwa adalah memang kehendak Bapa selama itu hanya orang-orang yang tidak terdidiklah yang telah menerima pesan-Nya. Hanya sedikit “wong cilik” – petani, nelayan dan pekerja – yang mengikuti-Nya karena ajaran-Nya dan bukan sekadar karena berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Yesus mengatakan bahwa inilah yang berkenan kepada Bapa surgawi.

Kabar Baik tidak (dapat) dipahami murni lewat hikmat dan akal budi, melainkan hanya dapat dikenal dan dipahami lewat perwahyuan (pernyataan) Yesus sendiri dan iman kepada-Nya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Yesus tidak mau menyatakannya kepada orang-orang bijak dan pandai dalam masyarakat Yahudi. Dengan jelas Yesus mewartakan Kabar Baik, perwahyuan Kerajaan-Nya kepada semua orang, dan hal ini diperjelas lagi dengan segala mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Namun hanya “orang kecil” (wong cilik) yang menerimanya dan menerima juga wawasan yang telah diberikan oleh Bapa surgawi.

Dalam artian sebenarnya hikmat-kebijaksanaan Yahudi – yang terutama memuncak pada suatu pengetahuan menyeluruh tentang “hukum lama” – sesungguhnya merupakan suatu penghalang bagi orang-orang untuk memahami pesan/ajaran Yesus mengenai “hukum yang baru”. Semakin kuat keterlekatan mereka pada “hukum lama” itu, maka semakin tertutuplah mereka bagi suatu perubahan. Mereka menjadi semakin tertutup terhadap “hukum yang baru”, “Perjanjian Baru”.

Oleh karena itu kita juga harus selalu mempunyai hati dan pikiran terbuka terhadap berbagai pesan yang datang kepada kita dari Kitab Suci (teristimewa Injil dan bacaan Perjanjian Baru), selagi pesan-pesan itu diwahyukan melalui Gereja, melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita, melalui khotbah-khotbah para pelayan sabda yang karismatis dan profetis, dan melalui para tokoh Gereja lainnya.

Kita semua hidup dalam sebuah dunia yang mengalami perubahan cepat di segala bidang. Jadi, kita juga harus membuka diri terhadap cara-cara baru bagaimana menerapkan pesan Injil atas kehidupan kita. Oleh karena itu, dengan penuh syukur kita harus berterima kasih kepada Bapa surgawi untuk wawasan apa saja yang diberikan oleh-Nya tentang pesan Injili dari Yesus kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena pada saat membaca dan merenungkan Injil-Mu hari ini, Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu, bahwa jika aku tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, maka aku tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 18:3). Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA” (bacaan tanggal 13-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS