TIGA KOTA DI GALILEA YANG DIKECAM YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 12 Juli 2016)

 Yesus-7

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24) 

Bacaan Pertama: Yes 7:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-8 

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini mungkin sekali memberikan kesan kepada banyak dari kita sebagai ungkapan ego seseorang yang memandang dirinya begitu penting, namun terluka. Dan, orang ini ingin membalas dendam kepada mereka yang menolak “jasa-jasa baik” yang telah diberikan olehnya. Kita boleh saja mempunyai pikiran seperti itu, akan tetapi kita juga harus menyadari bahwa betapa pun kerasnya kata-kata ini, kata-kata ini diucapkan oleh Yesus: Tuhan dan Juruselamat kita yang penuh cintakasih kepada kita semua.

Yesus dari Nazaret adalah seorang pribadi yang sangat manusiawi. Yesus telah mendatangi kota-kota di Galilea dan kepada para penduduk kota-kota itu Dia mewartakan tentang kedatangan kerajaan Allah. Siang-malam Yesus bekerja untuk menyiapkan hati orang-orang untuk dapat menerima rahmat yang sedang dilimpahkan oleh Bapa dari surga. Tanpa memikirkan diri sendiri dan dengan penuh sukacita Dia mewartakan Kabar Baik, membuat mukjizat-mukjizat serta melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Ia  telah menunjukkan kepada mereka kasih dan bela rasa-Nya lewat banyak sekali perbuatan baik yang dikerjakan-Nya, seperti menyembuhkan berbagai macam sakit-penyakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang dsb. Walaupun begitu, orang-orang di sana tidak menerima diri-Nya. Yesus mengucapkan kata-kata peringatan yang keras ini karena Dia tahu bahwa Kabar Baik yang telah diwartakan-Nya dan segala mukjizat yang telah dilakukan-Nya tidak ditanggapi sebagaimana dihasrati oleh Bapa-Nya. Allah sesungguhnya ingin melihat orang-orang itu menjadi rendah hati dan merasa terpesona akan kenyataan bahwa Dia telah mengutus kepada mereka Mesias yang telah dijanjikan-Nya. Allah ingin melihat orang-orang itu bertobat sehingga hati mereka dibuat siap untuk menerima gelombang rahmat yang yang akan mentransformasikan tanah Israel. Apakah Yesus kecewa? Teristimewa sebagai manusia, tentunya ada kekecewaan itu.

Tentu saja segala karya Yesus yang jelas-jelas menunjukkan kuasa ilahi dan otoritas-Nya semestinya menggerakkan orang-orang Galilea untuk menjadi percaya kepada-Nya. Memang benar orang-orang datang kepada-Nya dalam jumlah yang besar. Injil menggunakan istilah “orang banyak” (baca misalnya Yoh 6:22-24). Namun demikian, mereka tetap tidak tergerak oleh khotbah-khotbah-Nya tentang Kerajaan Allah. Mereka hanya datang kepada-Nya untuk menyaksikan dan memanfaatkan kuasa Yesus untuk menyembuhkan sakit-penyakit, mengusir roh-roh jahat. Hal-hal seperti itu akan menghemat biaya pengobatan dan kesulitan-kesulitan lainnya, kiranya begitu bukan?

Injil kiranya mengindikasikan bahwa Yesus mendapatkan sedikit saja pengikut sejati di Galilea, walaupun di provinsi itu Dia melimpahkan rahmat-rahmat istimewa, baik yang duniawi maupun yang rohaniah. Singkat kata, orang-orang Galilea tidak memberi tanggapan baik terhadap segala kebaikan Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini Yesus membuat semacam prediksi bahwa masa depan orang-orang Galilea tidak baik, karena ketiadaan iman mereka.

Siapa dari kita yang berani mengatakan bahwa kita tidak diberkati sebagaimana yang dialami orang-orang Galilea?  Barangkali tidak berupa tanda-tanda heran yang bersifat fisik, akan tetapi berupa karunia-karunia spiritual lainnya  dan juga karunia-karunia yang bersifat alami. Kita memiliki tubuh yang sehat dengan panca indera yang berfungsi dengan normal, kita mempunyai akal budi sehingga mampu berpikir, mempunyai tenaga untuk bekerja. Kita dianugerahi karunia iman, kita memiliki Kitab Suci yang berisikan sabda Allah, kita mempunyai kebebasan untuk menyembah Allah dan berdoa kepada-Nya, kita mempunyai privilese untuk mendengar suara Allah yang berbicara dalam hati kita ketika kita berdoa. Kita sungguh diberkati karena diperkenankan hidup dalam negara yang pemerintah dan mayoritas rakyat menerima kita, walaupun kita adalah minoritas.

Sekarang, apakah tanggapan kita terhadap segala berkat kebaikan Allah itu? Apakah Dia Tuhan dari segala sesuatu dalam kehidupan kita? Apakah kita menggunakan segala karunia yang kita miliki dalam iman serta mensyeringkan karunia-karunia itu dengan orang-orang lain. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap banyak orang yang tidak menikmati karunia-karunia yang kita miliki? Apakah hal itu sungguh mengganggu kita dalam cintakasih Kristiani? Seharusnya memang begitu! Hal tersebut seharusnya membuat kita dikejutkan, sehingga dengan demikian kita pun disadarkan untuk mau syering karunia-karunia kita kepada siapa saja yang kita temui dalam kehidupan kita dengan cara apa pun yang mungkin.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahi kami dengan berbagai karunia. Semoga kami tidak pernah mengecewakan Engkau. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan yang berjudul “MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB, BERSIKAP MASA BODOH DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA” (bacaan tanggal 12-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS