SEBUAH PANGGILAN UNTUK MENJADI SEPERTI DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 9 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan:  Peringatan S. Nikolaus Pieck dkk Martir.

Khusus FMM: S. Hermina dkk, tujuh orang martir FMM dalam Perang Boxer di Tiongkok

Peringatan S. Augustinus Zhao Rong, imam dkk. Martir Perang Boxer di Tiongkok 

jesus_christ_image_219

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat 10:25).

Panggilan Yesus kepada para murid-Nya – dari dahulu sampai sekarang – pertama-tama dan terutama adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti diri-Nya. Pada saat Ia memanggil Andreas dan Simon Petrus, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan menjadikan mereka penjala manusia (Mat 4:19). Dengan mengikuti Dia, para murid akan ditransformasikan menjadi serupa dengan diri-Nya. Hati Yesus akan menjadi hati mereka; seperti Guru mereka pula, mereka akan merindukan hari di mana semua orang akan mendengar Kabar Baik dan menerima pesan Injil.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa ikut ambil bagian dalam kehidupan sang Guru bukanlah tanpa tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan: “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat 10:25). Pada saat yang sama, Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada mereka untuk tidak menjadi takut akan apa yang akan terjadi atas diri mereka (Mat 10:26,28,31). Dengan keyakinan seseorang yang diri-Nya sendiri telah menjadi objek kebencian, ancaman, dijadikan korban jebakan oleh komplotan orang jahat, Yesus mengetahui benar apa artinya mengalami situasi-situasi yang menakutkan dan kemudian mengatasinya.

Karena kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas si Jahat. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan secara penuh bebas dari daya-upaya si Iblis, karena semua itu merupakan bagian kehidupan semua murid dalam dunia ini yang masih menjadi subjek kematian. Kita tidak pernah boleh menyerah, bagaimana pun dahsyatnya serangan yang datang atau betapa pun lemahnya kita rasakan diri kita. Guru kita – Tuhan Yesus Kristus – ada dalam diri kita untuk menghibur dan memperkuat diri kita. Dia adalah hikmat kita dan akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam iman yang rendah hati (Mat 10:19-12).

Pada zaman modern ini, dimana kita melihat bahwa percaya kepada Allah dan ketaatan pada perintah-perintah-Nya semakin menjadi sasaran serangan-serangan gencar, kita tetap dapat memiliki pengharapan dan terus menjalani jalan kemuridan. Kristus ada dalam diri kita dan kasih-Nya melingkupi diri kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan mengakui kita di hadapan Bapa surgawi apabila kita tetap setia kepada-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh berkecil hati, karena Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar daripada roh yang ada dalam dunia (1Yoh 4:4).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT” (bacaan tanggal 9-7-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-07 BACAAN HARIAN JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juli  2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS