KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 30 Juni 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raymundus Lullus, Martir (OFS)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI ATAS LOTENGSesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belas kasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6)

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan ‘kebenaran’ moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang pribadi yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”

Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”  Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah ‘Hakim yang senang menghukum’. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 30-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

Cilandak, 27 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements