MENCARI BALOK DI DALAM MATA KITA SENDIRI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XII – Senin, 20 Juni 2016)

 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: 2Raj 17:5-8,13-15a,18; Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3-5,12-13

Setiap kali kita membaca sabda Yesus seperti ini, kita harus tetap mengingat dan meyakini bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Bahkan sebelum kita dilahirkan, Ia mengetahui segala sesuatu tentang diri kita (Mzm 139:16) – termasuk dosa-dosa kita – namun bagaimana pun juga, Dia tetap mengasihi kita masing-masing. Ia inilah yang berbicara kepada kita, dan Roh-Nyalah yang menerangi kegelapan hati kita. Hasrat satu-satu-Nya dalam mengungkapkan dosa kita bukanlah untuk menuduh kita, melainkan “untuk melepaskan jiwa kita dari pada maut” (lihat Mzm 33:19). Ke luar dari kedalaman kasih ilahi, Roh Kudus senantiasa mencari jalan untuk membawa kita kepada kebebasan yang besar dan lebih besar lagi.

Yesus ingin agar kita berjalan dalam kasih-Nya dari hari ke hari, artinya setiap waktu. Namun Ia mengetahui benar bahwa penghakiman-penghakiman kita atas diri orang-orang lain dapat merintangi aliran kasih-Nya kepada kita. Penolakan-penolakan, pemikiran-pemikiran yang penuh kepahitan, kata-kata yang menusuk hati, dan tuduhan-tuduhan kiranya seperti batu-batu yang menumpuk dan membentuk sebuah penghalang antara sumber mata air dari kasih ilahi dan diri kita sendiri. Memang benar bahwa kesibukan kita dengan dosa-dosa orang lain tidak akan membuat mereka menjadi dirugikan, namun hal tersebut justru melukai diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menginginkan agar kita menjadi bebas – bukan sekadar demi orang-orang lain, melainkan karena kita melukai diri kita sendiri!

Itulah sebabnya mengapa kita harus mencari “balok” dalam mata kita sendiri, selalu dibimbing oleh hikmat yang lemah lembut dari Roh Kudus. Namun demikian, dalam pencarian kita itu, kita harus senantiasa mengingat bahwa kita ditebus dalam/oleh Kristus, dan Ia selalu hadir untuk menopang kita. Apa pun dosa kita, betapa berat sekali pun dosa kita itu, hal tersebut tidak akan mampu menghalangi atau menghentikan kasih Allah kepada kita dan juga tawaran-Nya akan janji kehidupan dengan Putera-Nya. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita mengakui dosa-dosa kita. Lalu Dia akan membersihkan kita secara sempurna.

Apabila kita membuka diri kita bagi kasih Allah, maka kita dapat merasa yakin bahwa keputusan Allah atas diri kita adalah keputusan untuk berbelas kasih dan mengampuni. Mengetahui dan menyadari rahmat Allah yang dicurahkan atas diri kita, maka diri kita pun akan mencerminkan belas kasih terhadap orang-orang lain.

DOA:  Tuhan Yesus, biarlah terang Roh-Mu bercahaya dalam kegelapan hatiku sehingga dengan demikian belas kasih-Mu akan berkemenangan atas penghakiman, baik dalam diriku maupun relasiku dengan orang-orang lain. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI” (bacaan tanggal 20-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-6-15) 

Cilandak, 19 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS