JANGANLAH MENGUMPULKAN HARTA DI BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa XI – Jumat, 17 Juni 2016)

onpage-2

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Raj 11:1-4,9-18,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11-14,17-18  

Apa arti dari kata “berbahagia”? Ada yang mengatakan bahwa kita berbahagia apabila pada saat kita memeriksa kotak pos kita pada suatu hari dan tidak menemukan tagihan kartu kredit yang harus kita bayar. Ini hanya contoh betapa kita semua merasa rindu untuk “berdamai” dengan dunia keuangan, dengan mempunyai uang dalam rekening giro atau rekening tabungan kita yang lebih daripada jumlah utang yang harus kita bayar. Ada pula orang-orang bijak yang berkomentar: “Jika itu yang membawa rasa damai dan kebahagiaan, mengapa koq orang-orang yang sangat kaya adalah orang-orang yang paling gelisah dalam hidup mereka?”

Sejumlah pribadi yang saleh dapat saja berkomentar: “Sukacita spiritual, kebahagiaan batiniah adalah menemukan utang-utang kita dibayar kepada Allah dan sesama”. Namun kapankah kiranya kita pernah menemukan utang-utang kita terbayarkan? Pernahkah ada saat di mana kita (anda dan saya) dapat mengatakan, “Segala sesuatu ini telah cukup bagiku”?

Kuliah-kuliah awal dalam “Pengantar Ilmu Ekonomi” sudah mengajarkan kepada para mahasiswi-mahasiswa bahwa “permintaan” (demand) dari pihak manusia itu bersifat tanpa batas. Hari ini mau beli Toyota Avanza, sudah punya Toyota Avanza mau beli Toyota Kijang Inova, dst. Tidak ada sesuatu pun dalam dunia ini yang dapat memuaskan kita sepenuhnya. Kita terus saja berpikir, “Jika aku dapat memiliki ini, aku akan berbahagia.” Namun keinginan-keinginan kita tidak pernah berhenti. Segala sesuatu yang ada di dunia iti tidak cukup untuk membuat siapa saja menjadi berbahagia secara sempurna. Ini adalah suatu gejala yang terasa biasa dalam kehidupan manusia. Iklan-iklan yang kita lihat, dengar dan baca sehari-hari juga memperparah masalah keinginan-keinginan yang tanpa henti ini. Amatilah diri kita sendiri dan juga orang-orang lain.

Oleh karena itu Yesus bersabda, “Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya”  (Mat 6:19). Tidak ada sesuatu pun yang sungguh dapat memuaskan berbagai keinginan seorang pribadi manusia.

ahippoSanto Augustinus dari Hippo [354-430] adalah salah satu pemikir yang paling cemerlang dalam sejarah. Orang kudus ini memiliki talenta yang surplus. Ia mencari kebahagiaan ke mana saja – dalam diri para sahabatnya, dalam kedudukan, dalam kenikmatan-kenikmatan badani, dalam pengejaran-pengejaran ilmu secara intelektual. Akhirnya semua itu mengecewakan dirinya. Waktu berjalan terus, tahun ketemu tahun, dan pada akhirnya Augustinus berhadapan dengan kebenaran yang sejati. Ia menulis, “O orang kaya, jika engkau tidak mempunyai Allah, apakah yang kaupunya? O orang miskin, jika engkau mempunyai Allah, apa lagi yang engkau butuhkan?”

Dari bagian jiwa yang terdalam pengalamannya, Augustinus mengatakan, “Hati manusia tetap tidak tenang, ya Tuhan, sampai ia menemukan ketenteraman di dalam Engkau” (diambil dan disesuaikan dari Sipke van der Land [alih bahasa: Rm. H.J. Kachmadi O.Carm. & P.A. Beding SVD],  PENGAKUAN AGUSTINUS, Penerbit Nusa Indah, 1981, hal. 11). Memang tidak ada yang lebih besar daripada Allah!

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhanku dan Juruselamatku. Aku sungguh rindu untuk berada di dekat-Mu. Ampunilah diriku, ya Tuhan Yesus, karena aku terkadang mengabaikan Engkau dan ajaran-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu agar membentuk diriku lebih baik lagi sebagai murid-Mu yang setia. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “KETERKAITAN ANTARA HARTA DAN HATI KITA” (bacaan tanggal 17-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juni 2016 [Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk-Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS