MELAWAN KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 15 Juni 2016)

 sermon-on-the-mount-the-lords-prayer-2015-01-01

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Raj 2:1,6-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-21,24 

Yesus seringkali mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap segala macam kemunafikan. Kemunafikan adalah ketidakjujuran yang tidak dapat ditoleransi. Salah satu tanda paling jelas sebuah masyarakat yang sehat adalah kejujuran yang inheren dalam diri para warga masyarakat itu. Dan bahan pengawet yang paling pasti dari kesehatan mental dalam diri seorang invididu adalah kejujurannya yang sudah menjadi kebiasaan (habitual honesty).

Tidak salahlah apabila “kejujuran” disebut sebagai yang paling fundamental, yang paling primitif dan mendasar dari keutamaan-keutamaan manusia. Kejujuran adalah fondasi paling mendasar di atas mana dibangun “iman” dan “pengharapan”, dan kejujuran adalah syarat mutlak adanya “kasih”.

Dalam masyarakat yang sudah dipenuhi dengan kebohongan, teristimewa di kalangan pimpinan negara dan bangsa, baik di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif, termasuk para elit dari partai-partai politik, yang sungguh-sungguh di diperlukan adalah “personalitas yang otentik” (authentic personality). Apa maksudnya? Tidak lain dan tidak bukan hal ini berarti “kejujuran fundamental dalam diri seorang pribadi”. Kita semua memiliki berbagai kelemahan, namun kuatlah dalam kejujuran kalau ingin dihormati atau memperoleh respek anak-cucu kita.

Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, sangat mengetahui bahwa kejujuran menyelamatkan jiwa. Yesus selalu melawan kemunafikan sebagai perusak yang besar dan teramat serius. Banyak peringatan-peringatan keras Yesus dalam pengajaran-pengajaran-Nya diarahkan oleh-Nya pada kejahatan duplisitas alias kepura-puraan. Yesus memberikan kepada kita kunci untuk memahami semua ini dengan efektif: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16,20). Oleh kata-kata Yesus ini kita dapat mengidentifikasikan diri kita sendiri dan juga orang-orang lain. Buah-buahnya, bukan “pepesan kosong” atau indahnya kata-kata yang diucapkan, yang akan mengungkapkan hal sebenarnya.

Ketidakjujuran, kepura-puraan, kemunafikan akan menjebak orang-orang dalam lingkaran dosa yang tak kelihatan ujung-pangkalnya. Permasalahan sesungguhnya tidak pernah dihadapi, apakah kecanduan narkoba, kecanduan miras, ketidaksetiaan dalam hidup perkawinan, kecemburuan, keserakahan /ketamakan, irihati, prasangka, mata duitan dlsb. Percayalah, bahwa tanpa “kejujuran” dalam pandangan total kita, kita tidak akan mampu mengalahkan diri kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau Yesus bersabda keras seperti berikut ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri”  (Mat 23:13-15).

Seorang pribadi, apalagi apabila dia seorang pemimpin (misalnya gembala umat, pemimpin negara, pemimpin perusahaan dlsb.); barangkali pada suatu saat merenungkan dan mengeluh atas apa yang sedang “menimpa” dirinya: “Tidak seorang pun menghargai kerja kerasku, tidak ada seorang pun yang mempercayai aku lagi.” Orang ini harus jujur untuk menjawab alasannya mengapa: Karena ada sesuatu yang salah dengan diriku! Mengapa aku sendiri tidak menyadarinya? Karena aku tidak jujur terhadap diriku sendiri. Aku tidak mempunyai nyali untuk menghadapi masalahku. Aku selalu menyingkir apabila solusi atas masalahku akan menyakitkan. Dan aku pun dapat sangat marah dengan siapa saja yang mencoba menolongku.

DOA: Tuhan Yesus, jauhkanlah aku dari sikap dan perilaku yang munafik dalam kehidupanku. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah aku menjadi murid-Mu yang berbuah baik dan banyak. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “SADAR AKAN KESATUAN KITA DENGAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 15-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 14 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS