HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI [Tahun C] – 12 Juni 2016)

ANNOINTING THE FEET OF JESUS - 002

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus di dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya. “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya. “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!”

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 7:36-8:3) 

Bacaan Pertama: 2Sam 12:7-10,13; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,7,11; Bacaan Kedua: Gal 2:16,19-21

Dalam Injilnya, Lukas menceritakan Yesus yang suka makan bersama di rumah orang yang berbeda-beda, paling sedikit sebanyak tujuh kali. Ada makan-makan di rumah Matius (Lewi) bersama-sama para pemungut cukai; menginap di Yerikho di rumah Zakheus, sekali-sekali makan dengan Maria dan Marta di Betania, dst. Pada bacaan Injil hari ini diceritakan bahwa Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Tidak ada catatan mengenai makanan yang disajikan dalam perjamuan-perjamuan ini, karena fokusnya adalah apa yang terjadi antara Yesus dan tuan rumah yang mengundang-Nya.

ANNOINTING THE FEET OF JESUSPerjamuan makan kali ini mengambil tempat  di Galilea. Kelihatannya Simon si Farisi mempunyai beberapa pertanyaan yang akan ditujukannya kepada Yesus, maka dia mengundang Yesus untuk makan di rumahnya, cukup jauh dari kerumunan orang banyak. Namun  sikap bersahabat dari Simon ternyata cetek-cetek saja …… superfisial! Ini kelihatan jelas dalam hospitalitas dan kesopan-santunannya terhadap Yesus, sang tamu yang diundangnya. Sampai hari ini masih berlaku aturan di Timur Tengah bahwa seorang tamu harus dilayani dengan cara yang paling baik. Bilamana persahabatan itu jujur, maka orang tidak perlu gelisah atau merasa susah tentang hal ini karena semua itu akan datang dengan sendirinya …… secara alamiah. Simon kelihatannya lebih berprihatin terhadap dirinya sendiri daripada terhadap Yesus.

Tanpa ada peringatan atau pengumuman sebelumnya, seorang perempuan tanpa nama dengan reputasi buruk memasuki rumah Simon dan duduk di dekat Yesus. Etiket yang berlaku tidak memperbolehkan Simon untuk mengusir perempuan itu. Demikian pula dengan Yesus, karena perempuan itu telah membawa sebuah hadiah bagi-Nya berupa minyak narwastu mahal dan meminyaki kaki Yesus. Perempuan itu menjadi begitu emosional dalam kehadiran Yesus, sehingga airmatanya berjatuhan di atas kaki Yesus. Dengan hati-hati perempuan itu menyeka air matanya dengan rambutnya dan mencium kaki Yesus. Semua yang terjadi secara tidak seperti biasanya itu menunjukkan afeksi sejati dari si perempuan, suatu ekspresi kasih penuh syukur yang ditujukannya kepada Yesus – berbeda sekali dengan apa yang dapat kita katakan tentang Simon si tuan rumah.

Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang PSK lokal atau hanya seorang perempuan miskin yang berasal dari keluarga miskin, atau bahkan apa sebabnya mengapa dia sampai begitu berterima kasih kepada Yesus dengan rasa penuh syukur. Barangkali Yesus telah membantu perempuan itu dengan pemberian nasihat yang tepat waktu dan tepat sasaran, atau memberikan berkat penuh pengampunan kepadanya. Dalam kerahasiaan pikirannya sendiri, Simon memandang rendah, baik perempuan itu maupun Yesus. Perempuan itu dicapnya sebagai seorang pendosa dan Yesus sebagai seorang nabi palsu. Akan tetapi, Simon secara otomatis menuduh dirinya sendiri – karena begitu dia menuduh Yesus sebagai seorang nabi abal-abal, Tuhan Yesus telah membaca pikiran si Simon yang tidak jernih itu. Kalau saja pikiran si Simon itu lebih positif, maka Yesus akan memberikan penilaian yang lebih baik atas dirinya. Perumpamaan kecil yang dikemukakan oleh Yesus menempatkan diri Simon dalam posisi defensif. Ia harus menerima bahwa dirinya adalah seorang pendosa yang tidak mau mengampuni orang lain. Simon hanya memberikan sepersepuluh dari kasih yang diberikan oleh perempuan itu, dengan demikian hanya menerima sepersepuluh dari pengampunan.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) berhati-hati dalam menghakimi “orang-orang berdosa” dalam lingkungan kita yang kita katakan mereka pasti dihukum oleh Allah. Kita semua menderita penyakit “Simonitis” – yang dapat dikenali lewat gembar-gembor penuh “khidmat” tentang penghakiman Allah sambil mengacung-acungkan Kitab Suci, membuat daftar panjang nama-nama para pendosa di dunia, dan dengan suara nyaring menyatakan dan memuji-muji kebenaran kita. Ingatlah, bahwa karena kita telah banyak diampuni, maka dari kita juga diharapkan kasih yang sepuluh kali lipat banyaknya. Apakah Yesus akan disambut dengan penuh hormat dalam rumah kita masing-masing? Dapatkah Yesus merasa rileks dan penuh damai bila diam dalam hati kita masing-masing?

DOA: Tuhan Yesus, nanti apabila aku ingin menghakimi orang lain, perkenankanlah aku mengingat siapa yang sesungguhnya sedang dicoba – orang itu atau aku sendiri – dan Siapakah Dia, sang Hakim yang benar, pantas dan mahatahu, dan hanya Dialah yang pantas menghakimi. Tuhan Yesus, kasihanilah aku orang berdosa ini! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-8:3), bacalah tulisan yang berjudul “PANTASKAH KITA MENGHAKIMI SEPERTI SIMON?” (bacaan tanggal 12-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS