AKU BERKATA KEPADAMU, BANGKITLAH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa X [Tahun ], 5 Juni, 2016) 

James_Tissot_The_Resurrection_of_the_Widows_Son_at_Nain_700

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 17:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Kedua: Gal 1:11-19 

Tentunya Yesus dikenal baik di kota-kota kecil yang terletak di sekitar Nazaret. Dia pernah diundang untuk menghadiri pesta perkawinan di Kana yang terletak sekitar 6,5 kilometer sebelah utara dari rumah-Nya. Dalam pesta itu Yesus membuat mukjizat – air menjadi anggur – hal mana tentu dinikmati oleh semua orang yang hadir dan membuat murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh 2:1-11). Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus melakukan perjalanan ke Nain, 8 kilometer sebelah selatan dari Nazaret. Di dekat pintu gerbang kota, Dia menghentikan sebuah iring-iringan jenazah dan membangkitkan orang yang telah mati itu. Dengan demikian, mengherankankah bagi kita apabila mendengar orang-orang yang menyaksikan mukjizat itu itu berseru: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita”? (Luk 7:16).

Tuhan Yesus tidak berkata banyak dalam peristiwa ini, namun Ia berkata kepada janda, ibunda dari orang yang mati, “Jangan menangis!” (Luk 7:13). Hal ini tidak berarti bahwa menangis adalah suatu tanda kelemahan; Ia pun menangis pada kematian sahabat-Nya, Lazarus (Yoh 11:35). Kita dapat saja berpikir bahwa perintah Yesus agar sang janda jangan menangis merupakan nasihat yang kurang bijak; karena bukankah ilmu psikologi modern mendorong kita untuk menangis dan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tertekan – melampiaskan unek-unek yang ada dalam hati kita – agar kita merasa bebas?

Yesus tentu setuju saja dengan pandangan ilmu psikologi ini, namun dalam kasus sang janda dari Nain ini, Dia memerintahkannya untuk jangan menangis justru karena apa yang akan dilakukan-Nya. Kepada orang mati itu Yesus berkata: “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14). Perintah ilahi yang diucapkan-Nya lebih kuat daripada kematian/maut dan “orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata” (Luk 7:15). Ini adalah satu cara yang Yesus ajarkan tentang keberadaan suatu kehidupan di masa depan dan menunjukkan bahwa Dia memegang kendali atasnya.

stdas0730Kita menangis ketika Saudari Maut (Badani) mendatangi keluarga kita atau para sahabat kita karena ada rasa kehilangan yang kita alami; namun kita juga dapat mengeringkan airmata kita karena Yesus tetap mengulang-ulangi kata-kata-Nya kepada almarhum/almarhumah yang kita kasihi: “Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Pada akhirnya, kita mengharapkan agar Ia pun mengucapkan kata-kata yang sama pada saat kematian kita.

Kita tidak dapat memberikan kehidupan kepada orang mati, tetapi kita dapat memberikannya kepada orang hidup – dengan mendampingi dan mendukung mereka yang sedang berduka. Orang-orang Nain dengan penuh kemurahan-hati mendukung sang janda, karena ada tertulis …… “banyak orang dari kota itu menyertai janda itu” (Luk 7:12). Kehadiran kita secara fisik dan kata-kata kita yang menghibur juga memberikan “peninggian” yang dibutuhkan bagi mereka yang berduka, yang telah mengalami “perendahan” karena menanggung penderitaan.

Karena kuat-kuasa dari Tuhan yang telah bangkit untuk memberikan hidup-baru kepada orang-orang lain, kita melihat peziarahan kita di bumi ini tidak sebagai suatu kematian yang berjalan menuju pekuburan, melainkan sebagai perjalanan penuh sukacita menuju kemuliaan, kembali ke dalam kota surgawi, ke rumah Bapa kita semua.

Kita sering mengacu kepada mukjizat kelahiran, namun kematian pun sebenarnya merupakan mukjizat yang lebih besar. Kematian adalah ulang tahun kita yang kedua, yaitu saat kita lahir ke dalam kehidupan kekal. Kita tidak boleh menangisi fakta bahwa kehidupan kita di dunia ini – cepat atau lambat – akan berakhir, melainkan menjalaninya secara penuh dan dengan sabar memperkenannya memberikan kelahiran bagi tahapan selanjutnya dari perjalanan kita yang berkelanjutan itu. Kita berada dalam suatu perjalanan dari satu tingkat ke tingkat lebih lanjut, dari kematian ke kehidupan; dan Yesus yang menyertai kita dengan perlahan mengulangi pesan-Nya di Nain. Seorang mati diusung dan Yesus memerintahkannya untuk bangkit, dan ia sungguh bangkit. Kita pun dapat seperti itu oleh iman kita yang kokoh-bertumpu pada sang Nabi besar dari Nazaret yang telah bangkit di tengah kita dan untuk kita.

(Tulisan ini adalah saduran dari tulisan Rev. James McKarns, GO TELL EVERYONE, Makati, Philippines: St. Paul Publications,  1985, hal. 244-246).

DOA: Tuhan Yesus, pada saat Saudari Maut (Badani) datang menjemputku kelak, aku sungguh berharap dapat mendengar suara-Mu yang lemah-lembut: “Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”. Dalam sisa-sisa hidupku di dunia ini, perkenankanlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku untuk berpikir, bersikap dan berperilaku sebagai seorang anak Bapa yang baik dan murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Gal 1:1:11-19), bacalah tulisan dengan judul “PENGALAMAN AKAN YESUS SECARA PRIBADI” (bacaan tanggal 5-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Juni 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements