KEMURAHAN HATI SANG JANDA MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Hati Tersuci SP Maria – Sabtu, 4 Juni 2016)

The_Widows_Mites004Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44)  

Bacaan Pertama: 2 Tim 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:8-9,14-17,22 

Yesus menyaksikan persembahan janda miskin itu dan mengakui pengorbanan yang dibuat oleh janda itu demi kasih-Nya kepada Allah. Akan tetapi janda itu tidak mengetahui bahwa Yesus sedang memperhatikannya, apalagi bahwa Yesus mengetahui jumlah persembahannya. Janda itu melakukan sesuatu yang menurut keyakinan sederhananya harus ia lakukan.

Pengamatan Yesus atas kemurahan-hati sang janda miskin mengingatkan kita bahwa pada saat Ia kembali kelak dalam kemuliaan-Nya dan  duduk sebagai sang Hakim, faktor penentu adalah apa yang kita lakukan atau tidak lakukan kepada orang-orang yang paling membutuhkan di sekeliling kita (Mat 25:45). Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita sampai suatu derajat tertentu bahwa apa yang kita lakukan bagi orang-orang lain, besar atau kecil, kita lakukan semua itu untuk Dia. Dia melihat semua yang kita lakukan atau tidak lakukan kepada orang-orang lain. Ia mengetahui sampai berapa besar (atau kecil) kasih yang ada dalam hati kita. Yesus merasakan setiap kata-kata baik yang diucapkan-Nya dan tindakan-tindakan baik yang kita lakukan.

Hal ini harus kita pikirkan dengan serius setiap kali kita melakukan  pemeriksaan batin. Oleh karena itu, pada akhir hari ini, kita (anda dan saya) dengan sebaik-baiknya mengingat berbagai interaksi kita dengan anggota-anggota keluarga kita, teman-teman kita, para rekan kerja kita, dan orang-orang lain. Dalam setiap situasi marilah kita mencoba untuk membayangkan bahwa orang yang berurusan dengan kita adalah Yesus sendiri. Baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah aku bertindak dengan cara yang menunjukkan respek dan kemurahan-hati kepada orang ini yang pantas diterima oleh Yesus?” Inilah caranya bagaimana kita melayani Allah – tidak hanya membuat dan melaksanakan rencana-rencana besar untuk mengubah dunia, melainkan dengan memperlakukan orang-orang lain seperti kita akan memperlakukan Yesus, teristimewa dalam perjumpamaan kecil-kecilan/biasa-biasa dengan diri-Nya – yang boleh dikatakan “tidak signifikan” – setiap harinya.

Ketika kita melayani orang-orang lain, apakah kita sungguh-sungguh menunjukkan kasih kita kepada Yesus? Ketika kita menyakiti hati orang lain, apakah sesungguhnya Yesus yang kita perlakukan seperti orang hina-dina? Ya, memang begitulah! Saulus dari Tarsus – yang penuh semangat ingin menghancur-leburkan Gereja Kristus yang masih muda usia –  sedang dalam perjalanannya ke Damsyik untuk melaksanakan misinya itu. Secara tiba-tiba dia menjadi objek pancaran cahaya dari langit yang dahsyat. Rebah di tanah – buta tak berdaya – dia mendengar Yesus berkata: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? (Kis 9:4). Aku (Yesus pribadi)  dalam hal ini adalah Gereja Kristus, Tubuh-Nya sendiri! Janda miskin dalam bacaan Injil hari ini tidaklah melakukan kewajiban keuangannya kepada sebuah lembaga yang tidak mempribadi. Janda miskin itu sebenarnya mengembalikan kepada Allah apa yang telah dilakukan oleh Allah bagi dirinya. Jadi, dalam setiap situasi yang kita hadapi pada hari ini, marilah kita ingat bahwa Yesuslah yang kita sentuh, dan kita dipanggil untuk mengasihi Yesus ini.

DOA: Tuhan Yesus, sembuhkanlah semua orang yang telah dilukai dengan mendalam atau mereka yang telah dilecehkan oleh sesama manusia. Biarlah kasih-Mu yang sempurna membawa penghiburan kepada mereka. Berikanlah kepada mereka kasih dan kehormatan yang sangat mereka butuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN ‘ISTIMEWA’ SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 4-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-06 BACAAN HARIAN  JUNI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 3 Juni 2016 [HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS