ALLAH TIDAK MEMBERIKAN KEPADA KITA ROH KETAKUTAN

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Peringatan S. Yustinus, Martir – Rabu, 1 Juni 2016) 

585500735_fb087c9f1e_zDari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius, anakku yang terkasih: Anugerah, rahmat dan  damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan anugerah-anugerah-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus sebelum permulaan zaman dan sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang melalui Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Untuk Injil  inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. (2 Tim 1:1-3,6-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-2; Bacaan Injil: Mrk 12:18-27

Pada waktu surat ini ditulis, excitement awal telah menyusut dalam gereja Kristiani perdana dan antusiasme akan Injil telah mulai menghilang; masalah-masalah sehari-hari telah menghantui para anggota jemaat. Memimpin komunitas Kristiani bukanlah suatu pekerjaan yang menarik dari sudut pandang dunia, tidak perlu dicemburui, nggak “keren”. Pekerjaan pelayanan seperti itu membutuhkan kesabaran dan hikmat-kebijaksanaan selagi sang pemimpin memimpin dan mengoreksi umat yang dipimpinnya.

Para pemimpin gerejawi pada masa itu adalah orang-orang yang realistis. Mereka melihat bahwa visi dari Injil dapat menjadi kabur apabila kesulitan-kesulitan yang bersifat rutin mengepung gereja dan umatnya. Solusi para pemimpin ini bukanlah untuk mengurusi masing-masing masalah secara satu persatu, melainkan untuk mengingatkan umat akan pesan Injil dan cara-cara penuh kuat-kuasa dengan apa Allah telah bekerja dalam kehidupan mereka. Agar dapat melakukan ini, umat dinasihati untuk “mengobarkan karunia yang mereka telah terima dari Allah”, yang tidak memberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Tim 1:6-7).

Surat Paulus yang satu ini mengakui bahwa apabila masalah-masalah menjadi fokus dari pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan kehilangan perspektif ilahi. Kehilangan perspektif terjadi apabila masalah-masalah yang mengepung kita dari segala arah menjadi lebih sentral daripada realitas kuat-kuasa dan rahmat Allah untuk menolong kita. Hal ini dapat menggiring kita kepada rasa ketidakberdayaan dan tentunya kehilangan sukacita dalam hidup kita. Situasi seperti inilah sebenarnya yang sedang mencengkeram para anggota komunitas Kristiani awal tadi.

Bagi kita yang hidup pada zaman modern, hal-hal seperti dapat terjdi pada tingkatan yang berbeda dalam kehidupan kita – dalam keluarga (gereja domestik atau gereja mini), paroki, bahkan gereja yang lebih luas. Masalah-masalah yang kita hadapi bersifat riil dan berwujud, namun rahmat Allah dan kuat-kuasa Injil sebenarnya tersedia bagi kita guna membantu kita menangani dan mengatasi masalah-masalah kita dengan kuat-kuasa dan sukacita Roh Kudus. Instruksi-instruksi yang diberikan Paulus dalam 2 Timotius dimaksudkan guna mengobarkan karunia-karunia yang telah diterima oleh  Timotius dan para pemimpin yang lain melalui penumpangan tangan oleh Paulus. Allah tidak memberikan kepada kepada umat-Nya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7).

DOA: Bapa surgawi, ajarkan aku setiap hari untuk mengobarkan karunia Roh Kudus yang hidup dalam diriku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk segala rahmat yang telah Kauberikan kepadaku dan saudari-saudaraku yang lain, dan terima kasih juga untuk roh kekuatan, kasih serta ketertiban. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 12:18-27), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN BARU YANG DITAWARKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 1-6-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN JUNI 2016. 

Cilandak,  31 Mei 2016 [Pesta SP Maria mengunjungi Elisabet]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements