KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 29 Mei 2016)

197920jesus20basketsgg6Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17) 

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26

Kematian Yesus pada kayu salib merupakan suatu tindakan paling signifikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Walaupun Yesus wafat ketika masih muda usia, Dia telah melakukan segalanya yang harus dikerjakan-Nya. Pada kenyataannya, seluruh makna hidup-Nya mencapai klimaksnya pada zaat akhir hidup-Nya. Pada dasarnya Yesus datang ke tengah dunia sebagai seorang Juruselamat, untuk menghancurkan maut dan dosa lewat kematian-Nya sendiri di kayu salib. Karena kebangkitan-Nya dari antara orang mati kita mengetahui bahwa kematian-Nya bukanlah suatu kekalahan yang disebabkan ulah para musuh-Nya, melainkan sebuah kemenangan yang mulia dan membahagiakan.

Lagipula, kematian Yesus tidak datang tanpa desain dari pihak-Nya sendiri. Kematian-Nya adalah sesuatu yang diterima oleh-Nya dengan kebebasan penuh. Orang-orang biasa, seberapa dalam pun kebencian mereka terhadap diri Yesus atau seberapa kuatnya pun sumber daya dan kekuasaan yang mereka miliki, semuanya tidak akan mampu menyeret-Nya kepada kematian. Dalam beberapa peristiwa para lawan-Nya malah telah mencoba untuk membunuh Yesus, namun karena waktu Allah belum tiba, maka para lawan-Nya pun kehilangan kekuatan mereka (Luk 4:29; Yoh 5:18; Mrk 14:1 dll.).

770295ee - EKARISTIPada hari Kamis Putih, malam sebelum kematian-Nya, Yesus mengetahui dengan pasti bahwa Dia akan mati dalam waktu yang dekat. Ia telah menanti-nantikan dan menyiapkan segala sesuatu dengan baik untuk saat itu. Selama melakukan pelayanan publik, Yesus telah memberikan tanda-tanda berkaitan dengan apa yang akan dilakukan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, pemberian makanan berupa roti dan ikan yang telah digandakan kepada paling sedikit 5.000 orang merupakan salah satu dari tanda-tanda itu. Pada Perjamuan Terakhir, dengan memikirkan para pengikut-Nya yang akan mendatang, Ia mengambil roti dan cawan berisi anggur dan mengucapkan kata-kata yang mengingatkan kita kepada kata-kata kreatif Allah sendiri pada awal waktu: “Inilah tubuh-Ku … Inilah darah-Ku” Kemudian Ia mengucapkan kata-kata yang kaya dengan makna bagi kita: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).

Yesus telah memberikan kepada para rasul dan kepada semua pengikut-Nya di segala abad, tubuh dan darah-Nya sendiri, sebagai kenangan akan kematian-Nya yang penuh kemenangan. Dalam bacaan kedua hari ini, kita membaca catatan tentang Perjamuan Terakhir yang paling kuno, lebih tua daripada yang terdapat dalam kitab-kitab Injil sinoptik. Setelah memberikan catatan tentang institusi Ekaristi, Santo Paulus menambahkan kata-kata berikut ini: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Dalam kenangan akan kematian Yesus dalam Misa Kudus, kita memproklamasikannya, kita menyerukannya, karena kematian-Nya adalah kabar baik dari penyelamatan kita. Ekaristi adalah sarana kita merayakan kematian-Nya dengan penuh sukacita dan rasa bahagia. Kematian Yesus adalah suatu awal, suatu permulaan, bukan suatu akhir. Kehidupan dunia diganti ke dalam hidup mulia melalui kebangkitan-Nya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada zaman dahulu pernah dirayakan pada hari Kamis, karena Perjamuan Akhir terjadi pada hari Kamis malam. Namun, karena Ekaristi begitu penting bagi kita, maka perayaan ini telah diubah menjadi pada hari Minggu agar lebih banyak orang yang dapat ikut ambil bagian. Setiap Misa Kudus adalah perayaan kematian Yesus Kristus, namun pada hari raya “Corpus Christi” ini secara istimewa kita ingin memproklamasikan, menyerukan dengan penuh sukacita, kematian Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita – selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Bapa surgawi. Kami percaya bahwa Ekaristi adalah cerita bagaimana Sabda Bapa yang kekal diungkapkan dalam kehidupan Yesus dalam daging, terus hadir dan operatif dalam kehidupan kami melalui roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan. Jagalah kepercayaan kami ini agar tidak pernah goyah, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI” dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 2-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 28 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements