JANGANLAH HARTA-KEKAYAAN KITA MENJADI PENGHALANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 23 Mei 2016) 

KEMURIDAN - SEORANG PEMUDA KAYA INGIN MENGIKUTI YESUSPada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10 

Dari bacaan Injil di atas kita dapat mengatakan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang mempunyai banyak harta-kekayaan (Mrk 10:22). Namun kalau kita melihat juga bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah mempunyai segalanya.

Perhitungan kita-manusia bukanlah tandingan dari perhitungan Allah, betapa pun akuratnya perhitungan kita itu. Dalam suratnya, Yakobus mendesak pembacanya (termasuk kita semua) untuk menganggap sebagai kebahagiaan apabila kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan karena hal-hal tersebut sebenarnya merupakan kesempatan-kesempatan untuk mempercepat perjalanan kita menuju Kerajaan Allah (lihat Yak 1:2 dsj.). Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan kepada laki-laki kaya itu bahwa “berkat-berkat” yang diterimanya dalam hidupnya justru dapat menjadi penghalang dalam upayanya memperoleh hidup yang kekal.

Cara berpikir Yesus ini sungguh mengejutkan orang-orang yang mendengarkan-Nya. Orang-orang Yahudi menyamakan kemakmuran materiil dengan berkat ilahi dan memandang kemiskinan sebagai hukuman Allah atas dosa seseorang. Jika seseorang mematuhi atau taat kepada hukum Allah, maka dia akan memperoleh ganjaran positif dalam hidup ini. Apabila seseorang berdosa, maka konsekuensi-konsekuensinya dapat terlihat jelas.

Yesus dapat mengatakan kepada laki-laki kaya ini bahwa kekayaannya sebagai berkat dari Allah. Namun pada saat bersamaan, Yesus juga mengetahui bahwa kekayaan itu telah menjadi “berhala”-nya. Hal ini merupakan sebuah penghalang baginya untuk memperoleh hidup kekal, satu-satunya kelekatan yang menghalang-halangi dirinya untuk mengikuti Yesus dengan sepenuh hati.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kekuranganku? Apakah yang menghalangiku untuk sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah? Bisa saja suatu hal yang jahat, suatu dosa yang belum mau kita akui, atau relasi tidak sehat yang mengikat diri kita selama ini. Akan tetapi lebih mungkin suatu berkat, sesuatu yang kita tahu Allah telah berikan kepada kita, namun belum memenuhi tempat sentral dalam hati kita yang sebenarnya harus disediakan bagi Dia saja. Barangkali ini menyangkut suatu pelayanan atau peranan kepemimpinan yang kita yakin tidak ada orang lain yang dapat melakukannya. Barangkali juga suatu kelekatan pada keluarga kita yang tidak menyisakan ruang untuk mengasihi orang-orang lain. Atau barangkali suatu masalah keluarga yang kita merasa bertanggung jawab untuk selesaikan dahulu sebelum kita dapat menolong orang lain. Barangkali masalah talenta yang membuat diri kita sulit bekerja dengan orang-orang lain yang menurut pandangan kita memiliki talenta yang kurang dibandingkan dengan talenta kita sendiri, atau untuk membiarkan mereka melakukan kesalahan yang membuat mereka bertumbuh. Barangkali peranan penting kita dalam organisasi yang membuat diri kita tidak bersedia melepaskan kendali yang selama ini ada di tangan kita.

Apa pun jawaban kita, marilah kita (anda dan saya) mendekat kepada Yesus dan biarlah Dia memandang diri kita dengan mata-Nya yang memancarkan kasih. Selagi kita melakukannya, maka berkat-berat ini akan jatuh pada tempatnya yang layak, dan Yesus sekali lagi akan mengambil tempat sentral dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau mengasihiku. Tolonglah, ya Tuhan, agar Engkau bersedia menunjukkan satu hal yang menghalangi diriku untuk mengikuti Engkau dengan sepenuh hatiku. Tolonglah aku untuk melepaskan hal itu agar supaya diriku menjadi milik-Mu sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “PARADOKS YANG MENGAMBIL TEMPAT SENTRAL DALAM KEKRISTENAN” (bacaan tanggal 23-5-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 Mei 2016 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS