BERSUNGUT-SUNGUT DAN SALING MEMPERSALAHKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 20 Mei 2016)

17377343-Image-of-a-husband-and-wife-quarreling-isolated-on-a-white-background-Stock-Photo

Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kita menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi surga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman. (Yak 5:9-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12; Bacaan Injil: Mrk 10:1-12 

Kita mungkin saja tergoda untuk melewatkan bacaan berupa nasihat-nasihat dari Yakobus tentang bersungut-sungut dan lain-lainnya, namun bagi Yakobus semua itu sungguh merupakan sesuatu yang serius. Kita seringkali berpikir bahwa bersungut-sungut merupakan kegiatan yang secara relatif tidak berbahaya, bagian dari hidup berelasi dengan orang lain. Bersungut-sungut itu dapat mengambil banyak bentuk: pengungkapan rasa kesal, jengkel, marah, mengeluh, mendongkol dan sejenisnya. Kita bahkan dapat bersungut-sungut secara “diam-diam” tanpa suara namun menunjukkan ketidaksenangan kita melalui tindakan-tindakan kita, melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh kita lainnya. Semua tindakan ini sebenarnya merupakan tanda perpecahan …… ketiadaan persatuan dan kesatuan, sesuatu yang sangat serius di mata Tuhan Yesus.

Marilah kita meneliti sikap hati kita masing-masing. Bagaimana pun juga, di sanalah letaknya awal dari perilaku-perilaku kita yang kelihatan. Yesus bersabda, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11,18).

Seringkali rasa iri, rasa curiga, rasa tidak berterima kasih, atau tidak-percaya berada pada akar ketidakpuasan kita. Kita dapat merasa bahwa kita dapat menangani situasi tertentu dengan lebih baik daripada bagaimana situasi tersebut sedang ditangani sekarang, atau bahwa kita lebih mampu untuk memberi arahan, atau bahwa talenta-talenta kita kurang dihargai atau digunakan. Mungkin saja ada benih kebenaran dalam pengamatan pribadi kita, namun akan menjadi berbahaya apabila kita memperkenankan hal-hal tersebut mendominir pemikiran-pemikiran kita dan mengisolir kita dari orang-orang lain.

Sebelumnya, Yakobus telah menasihati para pembaca suratnya: “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak 5:8). Karena kemenangan Yesus di atas kayu salib, maka ada harapan bagi kita. Kita dapat diubah. Kita dapat mengatasi kesombongan pribadi yang terluka dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri yang kelihatan begitu dalam berakar dalam diri kita. Kita dapat datang melihat bahwa hal-hal yang memisahkan kita dapat diatasi oleh kuat-kuasa dari kasih Allah. Allah dapat mencairkan perbedaan-perbedaan kita dan mentransformasikan hati kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita menyambut Dia masuk ke dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon ampun untuk cara-caraku yang telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh-Mu. Ampunilah sikap tidak berterima kasih yang kupertontonkan selama ini. Dalam belas kasih-Mu, sembuhkanlah kerusakan apa saja yang telah kusebabkan. Dengan bebas aku juga mengampuni semua orang yang pernah menggerutu terhadap aku. Aku ingin agar semua relasiku bertandakan belas kasih dan cintakasih dari-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP PERKAWINAN SETURUT KEHENDAK ALLAH” (bacaan tanggal 20-5-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS