MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 19 Mei 2016)

Keluarga Kapusin, Ordo I dan II: Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Bruder  

Yesus-7

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20

“Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50).

Pada zaman Yesus dahulu, garam adalah suatu komoditas yang sangat berharga dan dinilai sangat tinggi. Salah satu penggunaan garam oleh orang-orang Israel adalah untuk menempatkannya dalam persembahan untuk ritus pemurnian (lihat Im 2:13). Nabi Elisa memurnikan air yang tidak baik dengan memasukkan garam ke dalamnya (2Raj 2:19-21). Bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan juga digosok dengan garam (lihat Yeh 16:4). Garam juga berfungsi sebagai pengawet, sesuatu yang istimewa-penting bagi orang-orang yang tinggal dalam iklim yang panas dan kering tanpa mesin pendingin pada zaman itu. Perjanjian Lama mengacu kepada “perjanjian garam” yang dibuat Allah dengan umat Israel sebagai suatu kondisi yang permanen (Bil 18:19). Jadi, garam sebagai pengawet melambangkan kontrak yang berlaku selama-lamanya antara Allah dan umat-Nya.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa setiap orang akan “digarami” dengan api, setelah baru saya Dia selesai memperingatkan mereka bahwa dosa adalah suatu halangan besar bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, sehingga lebih baiklah bagi dirinya kehilangan sebagian dari tubuhnya daripada membiarkan dosa itu tetap ada dalam dirinya (Mrk 9:42-48). Dengan demikian kita dapat mengandaikan bahwa janji Yesus sehubungan dengan pemurnian melalui garam merupakan satu cara lain dalam bernubuat mengenai kematian-Nya di atas kayu salib, yang akan membersihkan  kita dari semua dosa.

Yesus mengingatkan para pengikut-Nya, “Garam memang baik” (Mrk 9:50), namun apabila garam itu menjadi hambar, maka garam itu menjadi tidak berguna. Pada waktu kita hidup sebagai umat Allah, artinya merangkul berkat-berkat dan tuntutan-tuntutan perjanjian-Nya, maka kita menjadi manusia yang otentik. Kita dipulihkan dari akibat kejatuhan Adam dan Hawa serta “dijaga” terhadap dosa-dosa di kemudian hari. Dengan kita semakin bertumbuh dekat Tuhan Yesus, semakin lebih pula kita digarami (diauri garam) oleh-Nya dan menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Hal ini membuat diri kita menarik bagi orang-orang lain karena selagi Yesus hidup dalam diri kita, maka kita mencerminkan kodrat-Nya. Kita menjadi seperti Kristus bagi saudari-saudari dan saudara-saudara kita. Inilah yang terjadi dengan para kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi yang sampai-sampai dikatakan banyak orang bahwa dia adalah sebagai seorang “Kristus yang lain” (alter Christus).

Yesus lalu mengambil kesimpulan: “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50). Kodrat Allah sendiri yang mentransformasikan diri kita, akan menolong kita untuk hidup harmonis dengan setiap orang yang ditaruh Allah dalam kehidupan kita. Yesus mengatakan bahwa kita adalah “garam bumi” (Mat 5:13), untuk berdiri tegak di tengah orang banyak dengan mencerminkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi garam Allah yang akan memurnikan kita serta menjaga kita dalam rahmat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami berketetapan hati untuk menjadi umat-Mu yang setia kepada perjanjian yang Kaubuat dengan kami. Perkenankanlah kami untuk memperoleh rahmat-Mu secara berkelimpahan, agar supaya kami dapat menjadi seperti Kristus bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “DOSA ITU SERIUS DAN TRAGIS” (bacaan tanggal 19-5-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-05 BACAAN HARIAN MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-2-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Mei 2016 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements