DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 30 April 2016)

OFMCap.: Peringatan Beato Benediktus dari Urbino, Biarawan

OSU: Peringatan Beata Maria dari Inkarnasi 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu ……”  (Yoh 15:18).

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan kata “dunia”? Dalam bagian Injil Yohanes lainnya, Yesus memproklamasikan kasih Bapa-Nya akan dunia dengan tindakan mengutus Putera-Nya yang tunggal guna menyelamatkannya (Yoh 3:16). Namun penggunaan kata “dunia”  dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus itu mengacu kepada semua mereka yang menghuni bumi, puteri dan putera Bapa. Akan tetapi, pada bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai “dunia” sebagai sistem kemanusiaan yang tidak tunduk kepada Allah, melainkan yang berada di bawah pengaruh Iblis. Kalau Yesus berbicara mengenai “dunia” yang membenci para murid-Nya, maka Dia mengacu pada pertempuran antara kegelapan dan terang.

Yesus berkata-kata kepada para murid-Nya guna menyadarkan mereka (Yoh 15:8). Sampai berapa sadarkah kita bahwa jalan-jalan atau cara-cara dunia bukanlah jalan-jalan atau cara-cara Allah? Apabila kita hidup sebagai anak-anak Allah, maka kata-kata kita dan tindakan-tindakan kita di sana sini akan “bertabrakan” dengan “dunia”. Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk senantiasa mengingat hal ini, sehingga dengan demikian kita tidak akan menjadi terkejut jika kita menghadapi oposisi selagi kita berupaya untuk melakukan kehendak Bapa surgawi.

Hidup sebagai anak-anak Allah menyangkut tindakan melepaskan nilai-nilai “dunia” yang umumnya berlaku, misalnya mendahulukan kepentingan pribadi kita dlsb. Sebagai anak-anak Allah, cara kita menjalin relasi harus didasarkan atas pemberian-diri dan rekonsiliasi. Kita tidak akan mencari-cari kesempatan untuk membalas dendam, namun akan menyerahkan tindakan penghakiman kepada Allah saja dan berdoa bagi para “musuh” kita (= orang-orang yang mendzolimi diri kita). Sikap dan perilaku kita haruslah berdasarkan ajaran Yesus dalam “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) dan hukum kasih. Karena itu, kita kadang-kadang akan menemukan diri kita dalam posisi “sendiri” dalam prinsip-prinsip kita, bahkan barangkali sampai diasingkan, dimusuhi, didzolimi oleh orang-orang lain, justru karena mau menjadi seorang “tanda lawan”.

Saudari dan Saudaraku, bagaimana seharusnya kita menangani “kebencian” yang harus dihadapi oleh semua pengikut Yesus? Pertama, baiklah kita memeriksa diri kita sendiri untuk melihat apakah diri kita terprovokasi oleh tindakan kita guna melakukan kehendak Allah atau oleh kesombongan dan kekerasan kepala kita. Roh Kudus dapat menolong kita untuk menentukan apakah ada sesuatu dalam tindakan-tindakan kita atau motif-motif yang melatar-belakangi tindakan-tindakan kita tersebut yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Kedua, marilah kita meneladan Yesus dan kerendahan hati-Nya. Yesus mengasihi dan bahkan mengampuni mereka yang menyalibkan diri-Nya, dan Dia mengajak kita untuk memiliki sikap yang sama terhadap siapa saja yang memusuhi kita, menyakiti hati kita dlsb. karena kesaksian Kristiani kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku berdoa bagi para misionaris yang menderita karena pengejaran dan penganiayaan, demikian pula bagi umat Kristiani biasa-biasa saja yang berdiam di seluruh dunia yang mengalami penindasan dalam berbagai bentuk karena iman Kristiani mereka. Berikanlah kekuatan dan daya tahan kepada mereka. Tolonglah diriku agar dapat meniru keberanian mereka. Tuhan, jadikanlah aku senantiasa setia kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 30-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-5-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 29 April 2016   

Sdr F.X. Indrapradja, OFS