PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 15 April 2016)

saint_paul_ananias_sight_restored

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:1-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 6:52-59

Bacaan yang diambil dari “Kisah para Rasul” ini menceritakan tentang saat-saat pertobatan Paulus. Namun marilah sekarang kita soroti murid Kristus yang bernama Ananias ini.

Pernahkah kita (anda dan saya) merenungkan bagaimana dan apa yang berkecamuk dalam pikiran Ananias ketika dia sedang melangkahkan kaki-kakinya di “Jalan Lurus” menuju rumah Yudas yang menampung Saulus (Paulus) dari Tarsus, untuk berdoa bersamanya? Memang mudah bagi kita untuk berpikir bahwa tidak ada masalah bagi Ananias untuk melakukan tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada-Nya. Namun bisa juga tidak begitu, karena bagaimana pun juga Ananias adalah seorang pribadi yang memiliki sifat-sifat manusiawi seperti kita. Barangkali yang memenuhi pikirannya adalah seperti berikut ini:

“Tuhan, Engkau benar-benar mempunyai suatu sense of humor yang aneh. Tidakkah Engkau tahu bahwa Saulus telah bersumpah untuk menangkap dan bahkan membunuh para pengikut-Mu? Barangkali sekarang aku harus mulai membuat fatwa warisku. Aku, Ananias, sehat dalam pikiran dan secara fisik, memberikan semua milikku di dunia kepada para saudari dan saudaraku dalam Tuhan …… Bapa, aku tahu bahwa rencana-Mu itu sempurna. Namun siapakah aku sehingga Kaupilih menjadi hamba/pelayan-Mu dalam kasus ini? Segala sesuatu dalam diriku menginginkan agar aku lari dan menyembunyikan diri. Aku tidak ingin melayani orang yang terlibat dalam kematian martir-Mu, saudara kami Stefanus. Barangkali Engkau dapat menyembuhkan dia dan mempertobatkan dia dulu, lalu aku akan datang menemuinya dan berbicara dengan dia.

“Yesus, hatiku rindu akan Engkau, namun “dagingku” takut kepada orang ini. Dia sangat berpengaruh dalam sinagoga-sinagoga. Bagaimana aku dapat menghadapinya? Apakah Engkau ingin agar aku mati sebagai martir juga? Apakah hidupku harus berakhir sekarang, setelah baru saja menemukan Engkau? Tuhan, ampunilah diriku karena tidak atau kurang menaruh kepercayaan kepada-Mu. Aku tahu bahwa rencana-Mu sempurna. Aku tahu bahwa Engkau tidak akan pernah meninggalkan diriku seandainya ada hal-hal yang menghalangiku di tengah jalan. Aku yakin, ya Tuhan, bahwa Engkau akan menolongku. Apa pun yang terjadi, Engkau senantiasa ada bersamaku. Ya Roh Kudus, jalanlah di depanku dan persiapkanlah hati Saulus. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana berbicara dengan dia, bagaimana mengasihinya, dan bagaimana membawanya kepada-Mu.”

Kita masing-masing kadang kala menghadapi tugas-tugas sulit – tantangan-tantangan yang kita lebih suka untuk hindari. Akan tetapi, seperti akan dialami Ananias, justru ketika kita mengatasi tantangan-tantangan ini melalui iman dan kepercayaan akan Allah maka kita menyaksikan mukjizat-mukjizat. Jadi, apabila kita sedang menghadapi pergumulan seperti itu, bayangkanlah apa yang terjadi dengan Ananias. Bayangkanlah dia memandang ke belakang 10 tahun setelah pertemuannya yang pertama dengan Saulus dan begitu merasa takjub akan transformasi yang terjadi pada orang itu dan juga kesetiaan Allah. Hal yang serupa dapat terjadi pada kita (anda dan saya) juga!

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan kepada-Mu sepenuhnya. Aku percaya bahwa Engkau dapat berbuat segala sesuatu. Aku percaya bahwa Engkau dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, walaupun melalui diriku. Tuhan, pada saat-saat aku merasa tidak pantas, penuhilah diriku dengan keyakinan. Dengan keberadaan Engkau bersamaku, apakah yang harus kutakuti? Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB” (bacaan tanggal 15-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS