PETRUS SEBAGAI MODEL BAGI SEMUA ORANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III – 10 April 2016)

153 EKOR IKAN LHOKemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami  pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai, akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?’ Jawab mereka, “Tidak.”  Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api dan arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu. Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes (Bar Yona), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.”  Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” (Yoh 21:1-19)

Bacaan Pertama: Kis 5:27-32,40-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Injil Alternatif: Yoh 21:1-14

PETER RESTOREDBacaan Injil di atas mencatat bahwa Petrus merasa sedih karena Yesus berkata  kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:17). Tentu pertanyaan sama yang diajukan Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya mengingatkan Petrus akan penyangkalannya terhadap sang Guru, sebelum Ia wafat di kayu salib. Sebanyak tiga kali pula Yesus memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, setelah murid itu menyatakan kasihnya kepada Yesus. Hal ini memang merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal, karena bagaimana seorang gembala (misalnya Paus, Uskup atau imam paroki) mengasihi umat yang dipercayakan kepadanya apabila pada instansi pertama dia tidak mengasihi Yesus Kristus, sang Gembala Agung?

Sekilas lintas memang kelihatan ironis bahwa Yesus memilih murid yang kasar, tidak sabar dan agak “gerabak-gerubuk” ini untuk memelihara domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Namun demikian, Petrus adalah jelas seorang pribadi yang memiliki iman. Ketika banyak murid meninggalkan Yesus di Galilea karena ajaran-Nya yang sulit tentang tubuh dan darah-Nya, Ia bertanya kepada kedua belas murid-Nya (rasul-rasul), “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Atas nama keduabelas murid, Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Demikian pula dalam peristiwa berbeda yang terjadi di daerah Kaisarea Filipi, yaitu ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Simon Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat16:16).

Kelemahan-kelemahan pribadi Petrus – yang didokumentasikan dengan baik teristimewa dalam keempat kitab Injil – seringkali menjadi masalah bagi Yesus. Misalnya, ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras karena Dia mengatakan bahwa diri-Nya harus menderita dan mati, maka Yesus menegur Petrus dengan keras juga: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:31-33). Kelemahan-kelemahan sangat manusiawi dari Petrus mencegah dirinya memberikan pelayanan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus justru pada saat-saat yang sangat dibutuhkan oleh-Nya. Petrus tertidur selagi Yesus berdoa di taman Getsemani (Mrk 14:37), dan ia menyangkal mengenal Yesus di depan umum (Mrk 14:66-72).

Melalui pengalaman-pengalaman “pahit” seperti inilah Petrus belajar betapa mendalam kebutuhannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada rahmat Allah. Sebagai akibatnya, hatinya disiapkan untuk menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Pada akhirnya, Petrus mengatur penyebaran Injil kepada orang-orang non-Yahudi (lihat Kis 10:34-48). Sementara kita merenungkan iman-heroik dari Petrus, maka penting dan menghibur hatilah apabila kita mengingat bahwa Petrus bertumbuh sebagai seorang pengikut Yesus. Petrus bukan seorang Kristiani saleh sejak lahir dan kehebatan imannya juga tidak datang secara sekaligus.

Yesus meninggikan Petrus sebagai “model” untuk semua orang percaya. Petrus membiarkan hidupnya mengecil sehingga dengan demikian Yesus dapat menjadi besar. Petrus adalah seorang manusia, seperti kita semua. Pertumbuhan iman Petrus menjadi “model” yang memberi semangat bagi kita yang hidup pada zaman modern. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan Allah untuk membentuk karakter dalam diri kita selagi kita mempersiapkan diri kita untuk menerima Roh-Nya pada hari Pentakosta.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami bagi Roh-Mu. Kami adalah bejana-bejana yang tidak sempurna, bahkan kami tidak pantas untuk menjadi anak-anak-Mu. Namun demikian, melalui rahmat-Mu Engkau telah menyelamatkan kami dan membuat kami semua menjadi milik-Mu sendiri. Berdayakanlah kami agar dapat menjadi saksi-saksi kasih-Mu kepada dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-19), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DITRANSFORMASIKAN SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 10-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 6 April 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements