GERAKAN TURUN-NAIK ANAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 5 April 2016)

YESUS DENGAN NIKODEMUS - LEBIH ASLIJanganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5  

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia” (Yoh 3:13).

Injil Yohanes – seperti juga tulisan-tulisan lain dalam Perjanjian Baru – jelas ditulis dalam terang kebangkitan Kristus atau dengan kata lain “dalam terang Paskah”. Setiap hal yang dikatakan tentang Yesus, dan juga setiap hal yang dikatakan oleh Yesus harus dipahami dalam terang itu.

Untuk membuat acuan kepada “peninggian” Anak  Manusia menjadi lebih jelas, Yohanes menunjuk kepada lambang/simbol standar berkenan dengan keselamatan/ penyelamatan, yaitu “ular tembaga” di padang gurun dalam Kitab Bilangan. Dalam kitab tersebut terdapat catatan sebagai berikut:

Maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

Dengan mengambil peristiwa di padang gurun dalam rangka “keluaran” orang-orang Yahudi dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji serta menerapkan peristiwa tersebut pada Anak Manusia, maka Yohanes memberikan suatu dimensi yang hampir samasekali baru pada bagian akhir dari prolog Injilnya yang berbunyi: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

MUSA DALAN ULAR TEMBAGA - BIL 21Kemudian Yesus melanjutkan penjelasan-Nya kepada Nikodemus: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan …” (Yoh 3:14). Seperti telah kita ketahui, peninggian Anak Manusia mengacu kepada peristiwa penyaliban yang dalam Injil Yohanes merupakan bagian integral dari peristiwa “peninggian dan pemuliaan” Yesus Kristus. Peristiwa ini mencakup “salib” yang tidak kurang daripada “kebangkitan”, “kenaikan ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa”, dan juga Pentakosta (lihat Yoh 8:28;12:32). 

Tujuan dari gerakan turun-naik Anak Manusia adalah “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:15). Jadi, maksud dan tujuan inkarnasi-Nya: “Firman telah menjadi manusia” atau “Sabda menjadi daging”(Yoh 1:14) menyangkut hidup, kematian, kebangkitan dan peninggian Yesus dari Nazaret, sebenarnya sederhana saja, yaitu memberikan “hidup kekal” kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pertanyaan mendasar yang diajukan oleh Yesus pada bagian awal Injil Yohanes: “Apa yang kamu cari?” (Yoh 1:38) sungguh penting dalam hal kemuridan kita. Maka jawaban yang tepat dari kita para murid-Nya kepada Yesus adalah “kehidupan kekal”. Siapa saja yang mencari Yesus, siapa saja yang menghadap Dia, haruslah mempunyai “kehidupan kekal” sebagai satu-satunya tujuan. Kalau kita (anda dan saya) ingin mencari hal-hal selain “kehidupan kekal”, maka kita dapat mencarinya di tempat-tempat lain dengan risiko kehilangan kesempatan untuk memperoleh hidup yang kekal tersebut.

Itulah sebabnya mengapa Yohanes melanjutkan uraian tentang “hidup kekal” ini. Pada akhir dari bab 3, tercatat Yesus bersabda: “Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya” (Yoh 3:36). Jadi, percaya kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kusampaikan kepada-Mu, karena Engkau mengingatkan diriku bahwa “hidup yang kekal” adalah seharusnya merupakan maksud-tujuan mengapa aku mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid. Bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu lewat pembacaan Kitab Suci, dalam Misa Kudus, dan selagi aku menjalani hidupku sehari-hari di tengah dunia ini. Aku sungguh ingin mengetahui kehendak-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:32-37), bacalah tulisan yang berjudul “GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS” (bacaan tanggal 5-4-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-4-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 3 April 2016 [HARI MINGGU PASKAH II – MINGGU KERAHIMAN ILAHI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS