KABAR SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Rabu, 25 Maret 2015) 

the-annunciation-by-waterhouse

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Pada saat penciptaan, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2). Pada saat Inkarnasi, Roh Allah yang sama turun ke atas Maria, dan “kuasa Allah Yang Mahatinggi” menaungi dirinya (lihat Luk 1:35). Kerinduan setiap hati manusia yang berkehendak baik terjawablah pada saat Maria memberikan fiat-nya terhadap kata-kata malaikat agung Gabriel: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Akhirnya, Allah berdiam di tengah umat manusia.

Raja Daud pada suatu ketika berpikir bahwa tangan-tangan manusia dapat membangun sebuah rumah bagi Allah (2Sam 7:1-5), dan Allah menggunakan “niat agung namun salah arah” dari Daud itu dengan memberi pelajaran yang bersisi-dua. Pertama-tama Allah “menolak” tawaran Daud dengan mempertahankan kedaulatan-Nya dalam menentukan bagaimana Dia akan memerintah Israel. Namun pada saat yang sama Allah juga memberikan sebuah janji indah kepada Daud: “Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun” (Mzm 89:5). Sabda Allah terpenuhi sebagian pada saat Salomo membangun rumah TUHAN (YHWH) dan kemuliaan-Nya memenuhi rumah YHWH itu (1Raj 8:10-11). Akan tetapi, pemenuhan total datang ketika Imanuel (Allah beserta kita) masuk ke dalam dunia melalui seorang perawan Nazaret yang bernama Maria.

Maria secara unik dipilih untuk menjadi “hamba Tuhan” (Luk 1:38), dan malaikat agung Gabriel benar ketika menyapa Maria dengan kata kecharitomene – engkau yang dikaruniai – penuh rahmat (Luk 1:28). Kita dapat ikut ambil bagian dalam rahmat tersebut selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya, mengakui dosa-dosa kita, dan mohon agar Roh Kudus membuat INJIL menjadi hidup dalam diri kita.

Begitu banyak hal yang dapat kita renungkan selama masa Prapaskah yang penuh rahmat ini dan teristimewa pada hari ini – HARI RAYA KABAR SUKACITA – mengingat begitu banyak dimensi indah dari misteri kasih Allah yang tersedia bagi kita. Nah, bacaan Injil Lukas tentang keajaiban Inkarnasi Tuhan datang justru di tengah-tengah berbagai kegiatan kita dalam mengintensifkan hidup doa, pemberian sedekah dan puasa serta pantang kita … di tengah-tengah permenungan kita tentang sengsara, wafat Yesus sebelum kebangkitan-Nya di hari Paskah yang menyusul, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara komunal dalam pertemuan-pertemuan lingkungan, paroki dll.

Sekarang, masalahnya: Maukah kita menyediakan cukup waktu hening di hadapan Allah sebagaimana telah dicontohkan oleh Santa Perawan Maria? Beranikah kita memilah-milah antara kegiatan persiapan Paskah spiritual dan kegiatan persiapan “Paskah” yang murni merupakan adat-kebiasaan/budaya, misalnya menyiapkan telur-telur untuk dihias dlsb.?

Semoga kita menerima rahmat Allah secara melimpah pada hari-hari menjelang Paskah ini. Hal ini tidak mudah terwujud, bahkan berada di luar kekuatan kita sendiri, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil (lihat Luk 1:37). Ia adalah “satu-satunya Allah yang penuh hikmat, yang berkuasa menguatkan kamu …… sesuai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan” (Rm 16:25-27).

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu, jagalah diriku agar tidak menaruh imanku di atas pasir perasaan-perasaanku, melainkan ajarlah aku untuk percaya pada kenyataan-kenyataan yang kokoh seperti batu karang perihal kebaikan-Mu dan kasih-Mu bagiku. Bapa, perkenankanlah aku bersama Bunda Maria berkata: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERISTIWA YANG MEMBAWA KITA SEMUA KEPADA PERISTIWA KELAHIRAN TUHAN YESUS” (bacaan tangggal 44-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-04 BACAAN HARIAN APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-3-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Maret 2016 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS