TANPA ANUGERAH SALIB, KITA AKAN DIHUKUM

(Bacaan Kedua Misa Kudus,  HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN [TAHUN C] – 20 Maret 2016) 

SANG TERSALIB

SANG TERSALIB

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11) 

Bacaan Perarakan: Luk 19:28-40; Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9,17-20,23-24; Bacaan Injil: Luk 22:14-23:56 (Luk 23:1-49)

Seandainya kita berada di ruang atas pada waktu berlangsungnya Perjamuan Terakhir, kita dapat melihat bahwa Yesus mengetahui. Ia mengetahui siapa yang akan mengkhianati diri-Nya. Dia mengetahui bahwa Dia tidak akan minum anggur lagi. Ia mengetahui bahwa Simon Petrus akan menyangkal diri-Nya. Namun demikian, manakala kita membaca kisah sengsara, ada sesuatu dalam diri kita yang selalu menginginkan bahwa semua itu tidak pernah terjadi. Kita berpikir: Andaikan saja Pilatus mengetahui siapa Yesus itu sesungguhnya! Andaikan saja orang-orang Farisi lebih membuka diri!

Apakah kita dapat mencoba menyelamatkan Yesus dari “nasib”-Nya? Walaupun seluruh kebutaan umat manusia dapat dihilangkan, dan kita semua sadar akan kedosaan kita di hadapan Allah, kita akan tetap membutuhkan pengorbanan sempurna dari Yesus demi keselamatan kita. Tanpa anugerah salib, kita akan dihukum. Pembacaan kisah sengsara Yesus Kristus dapat menolong kita untuk mampu melihat betapa menyedihkan kondisi umat manusia pada waktu itu, dan masih begitu juga pada hari ini.

Yesus begitu dekat dengan Bapa-Nya, sehingga sekalipun dihukum berdasarkan tuduhan palsu/tidak benar dan disalibkan, Ia tetap mengampuni orang yang menghukum diri-Nya (Luk 23:34) dan Ia mohon agar orang-orang tidak menangisi diri-Nya (Luk 23:27-28). Kita dapat menolak untuk membayangkan Yesus yang berpeluh seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah ketika mengalami sakratul maut di taman Getsemani (Luk 22:44). Namun pada saat yang sama, kita dapat dipenuhi dengan rasa syukur selagi kita mengingat bahwa Dia mengalami serta menanggung semua penderitaan itu demi dan untuk kita. Selagi Roh Kudus membuka mata (-hati) kita agar dapat menyaksikan penderitaan sengsara Yesus, maka kita pun akan mengalami perubahan dan beralih memusatkan perhatian pada dosa-dosa kita sendiri, mengetahui bahwa karena kegelapan dalam diri kita-lah Yesus menderita sengsara dengan cara yang begitu hebat.

Pada hari ini, marilah kita mengambil waktu untuk membaca kisah sengsara Yesus Kristus, merenungkannya dan memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Marilah kita menempatkan diri kita di ruang atas, atau di Getsemani, atau di bukit Kalvari. Dalam iman, marilah kita memandang(i) Sang Tersalib yang memberikan hidup-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita – manusia berdosa. Dengan menempatkan diri kita bersama Yesus di tengah peristiwa-persitiwa ini, maka kita  dapat mengalami penebusan kita secara penuh kuat-kuasa dan mampu mengubah hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah bagi kami misteri salib-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengosongkan diri kami sendiri dengan rasa percaya bahwa pada suatu hari kelak kami akan ditinggikan bersama-Mu untuk ikut serta dalam kemuliaan-Mu yang tidak akan berakhir. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-7), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KASIH-NYA YANG TOTAL” (bacaan tanggal 20-3-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 16-03 BACAAN HARIAN MARET 2016 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS