ALLAH YANG SETIA PADA JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II [TAHUN C], 21 Februari 2016) 

abrahamLalu TUHAN (YHWH) membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abraham kepada YHWH, maka YHWH memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Lagi firman YHWH kepadanya: “Akulah YHWH, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Kata Abram: “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Firman YHWH kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan.

Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah YHWH mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat …” (Kej 15:5-12,17-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,7-9,13-14; Bacaan Kedua: Flp 3:17-4:1 (Flp 3:20-4:1); Bacaan Injil: Luk 9:28b-36 

Pada zaman Abraham, perjanjian-perjanjian seringkali disahkan dalam suatu rituale di mana pihak-pihak yang terlibat berjalan di antara paruhan dari hewan kurban yang telah dipisahkan menjadi dua bagian. Dengan mengambil tindakan seperti ini, orang-orang yang membuat traktat berkata, “Semoga aku menjadi seperti hewan ini jika aku melanggar perjanjian ini.” Akan tetapi, dalam membuat perjanjian-Nya dengan Abraham, hanya Allah (dalam bentuk perapian yang berasap beserta suluh yang berapi) lewat di antara potongan-potongan daging itu. Dengan perkataan lain, Allah bertanggung jawab sepenuhnya atas janji-Nya untuk memberikan Abraham keturunan sebanyak bintang di langit.

Cerita ini mengilustrasikan dua pokok penting. Yang pertama, cerita ini menunjukkan betapa lengkap-total komitmen Allah untuk memenuhi janji-Nya. Allah tidak pernah akan mundur dari janji-Nya untuk memberkati dan memelihara anak-anak-Nya. Betapa pun buruknya pelanggaran yang dilakukan kita-manusia tidaklah dapat menghentikan Dia mengasihi kita. Kita dapat mengatakan, bahwa Allah terikat pada perjanjian-Nya sendiri.

Barangkali yang lebih penting adalah, bahwa cerita ini merupakan pratanda dari keselamatan kita dalam Yesus. Karena Allah tidak meminta Abraham untuk berjalan di antara potongan-potongan hewan, maka Abraham – dan semua mereka yang mengikutinya – tidak akan menderita hukuman penuh untuk pelanggaran terhadap perjanjian itu. Allah mengetahui bahwa efek-efek dari dosa asal membuat tidak mungkin bagi kita untuk setia secara lengkap. Itulah sebabnya mengapa selagi sejarah Perjanjian Lama berjalan maju, Allah menjanjikan sebuah perjanjian baru, yang pada akhirnya menuntut kematian Putera-Nya yang tunggal untuk menebus bagian dari perjanjian yang kita-manusia tidak dapat penuhi.

Saudari dan Saudaraku, dapatkah kita membayangkan “seorang” Allah yang lebih setia? Dia tidak hanya memegang teguh perjanjian yang menjadi bagiannya; Dia juga mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk memenuhi perjanjian yang menjadi bagian kita-manusia. Melalui Ekaristi, Roh Kudus, dan Gereja, kita memiliki seluruh kekuatan yang kita butuhkan untuk hidup sebagai anak-anak Abraham yang setia. Marilah kita memohon  kekuatan Roh Kudus dari Allah selagi kita berjuang untuk mengasihi, menghormati, dan melayani Dia.

DOA: Bapa surgawi, dengan rendah hati aku berdiri penuh takjub melihat kesetiaan-Mu. Engkau bahkan mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menjamin keselamatan kami dan memenuhi diri kami dengan Roh Kudus-Mu, kuat-kuasa dari perjanjian baru. Dengan ini aku membuat komitment ulang guna melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:28-36), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH ANAK-KU YANG KUPILIH, DENGARKANLAH DIA !” (bacaan tanggal 21-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS