SELAIN TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 17 Februari 2016) 

stdas0730Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

“Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29).

Sebuah tanda adalah apa saja yang menunjuk atau membimbing seseorang kepada suatu arah atau situasi. Guntur dan kilat adalah tanda-tanda bahwa sebentar lagi hujan deras akan turun; wajah yang dikerutkan menandakan kemarahan atau frustrasi; lampu merah di persimpangan jalan adalah tanda bahwa kendaraan kita harus dihentikan. Jadi, ketika orang-orang banyak meminta kepada Yesus suatu “tanda” yang menunjukkan bahwa Dia adalah sungguh seorang utusan Allah, maka Dia memberikan kepada mereka jawaban seperti sebuah teka-teki yang membingungkan: tanda Yunus!

Tanda yang disebut oleh Yesus itu mengacu kepada efek khotbah Yunus pada penduduk kota Niniwe yang pada awalnya tidak percaya. Yunus – pada awalnya enggan serta ragu-ragu dan mencoba menghindar dari perintah Allah kepadanya – barangkali memberikan khotbah yang paling singkat yang pernah tercatat dalam sejarah: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4). Khotbah Yunus ini membuat orang-orang Niniwe yang ribuan jumlahnya (termasuk raja mereka) melakukan pertobatan dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada belas kasih Allah. Kuat-kuasa “tanda” ini bagi Yesus adalah bahwa sedikit kata-kata telah menyebabkan begitu banyak hidup yang mengalami perubahan secara begitu radikal (dalam artiannya yang baik).

Sebagaimana Yunus merupakan suatu tanda bagi orang-orang Niniwe, maka Yesus pun adalah suatu tanda bagi orang-orang generasi-Nya dan juga bagi kita semua. Seperti Allah mengutus Yunus dengan pesan-Nya, demikian pula Yesus mengutus kita pada hari ini untuk membawa pesan-Nya kepada semua orang yang kita jumpai. Yesus ingin agar kita menjadi suatu tanda, baik dalam kata-kata maupun hidup kita sehari-hari, bahwa Tuhan adalah “Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta” (Yun 4:2).

Pada awalnya Yunus merasa enggan dan ragu-ragu untuk menjadi utusan Allah. Kita pun dapat seperti Yunus. Barangkali kita merasa takut untuk membuka mulut kita atau merasa tidak memadai/layak untuk berfungsi sebagai seorang utusan Tuhan. Namun pada kenyataannya kita dapat lebih penuh kuat-kuasa dari Yunus. Mengapa? Karena Yesus telah wafat dan bangkit dan Ia telah mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada kita. Kita tidak memerlukan gelar akademis dalam bidang teologi atau keberanian yang luarbiasa seperti superman. Dalam situasi-situasi tertentu, kita bahkan tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun! Yang kita perlukan adalah hati yang diserahkan kepada Yesus dan suatu hasrat untuk melihat dan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan-Nya secara berlimpah. Apa yang dilakukan Yunus di Niniwe masih berlanjut hari ini, namun oleh Dia yang sungguh jauh lebih besar daripada Yunus, yaitu Yesus Kristus yang hidup dalam diri kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku dapat menjadi suatu tanda kasih-Mu yang penuh sukacita dan penuh kuat-kusa bagi orang-orang di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yun 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MENERUSKAN TONGKAT ESTAFET” (bacaan tanggal 17-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 15 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS