SALIB ADALAH JALAN KASIH YANG SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – 11 Februari 2016)

Hari Orang Sakit Sedunia 

saint-francis-of-assisi-embracing-the-crucified-christ.jpg!BlogKemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25) 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Pada awal masa Prapaskah ini, Allah mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita masing-masing: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebaskan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri? 

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Yesus – dan tentunya para rasul dan murid-Nya yang pertama – mempunyai banyak hal yang ingin diceritakan terkait misteri Salib. Salib setiap hari yang dikatakan oleh-Nya dalam bacaan Injil di atas tidaklah terbatas pada salib yang dipikul-Nya dari istana Pilatus menuju bukit Kalvari, melainkan mencakup seluruh kehidupan Yesus dan juga seluruh kehidupan setiap orang Kristiani sejati, sebuah tugas yang diberikan Allah untuk kita lakukan. Santo Paulus meyakinkan kita bahwa Salib Kristus adalah sukacita kita dan kemuliaan kita, dan ia menulis dalam salah satu suratnya: “Kami memberitakan Kristus  yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:23-24).

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKUSalib adalah jalan kasih yang sempurna dan dedikasi yang total. Keempat kitab Injil membuat jelas: Salib adalah inti kehidupan Yesus sendiri dan akan menjadi inti kehidupan para rasul-Nya dan para murid/pengikut-Nya yang sejati sepanjang masa. Yesus tidak pernah memikirkan segala sesuatu demi kepentingan diri-Nya sendiri. Keprihatinan-Nya senantiasa menyangkut pekerjaan yang diberikan oleh Bapa surgawi kepada-Nya, yakni menyelamatkan umat Allah.

Penderitaan dan pengorbanan memang tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan hidup orang Kristiani, dengan demikian membuat kita ikut ambil bagian dalam karya penebusan Kristus. Kita tidak menolong saudari dan saudara kita yang menderita agar supaya mereka lepas dari Salib, melainkan untuk membuat diri kita dan saudari-saudara kita itu lebih serupa dengan Kristus, sempurna dalam kasih dan diselamatkan dari si Jahat.

Saudari dan Saudaraku, kita seharusnya merasa bahagia ikut ambil bagian dalam Salib karena kita mencintai karya Kristus di atas bumi, yaitu memulihkan dan mendamaikan relasi Allah dengan umat-Nya, dan membawa segenap ciptaan kembali kepada keindahannya semula.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk memanggul salibku setiap hari dan mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ul 30:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 11-2-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  9 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS