TIDAK ADA ALLAH SEPERTI ENGKAU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa,  9 Februari 2016)

SALOMON DEDICATES THE TEMPLEKemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN (YHWH) di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, lalu berkata: “Ya YHWH, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu.

Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkan permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di surga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni. (1 Raj 8:22-23,27-30)

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11; Bacaan Injil: Mrk 7:1-13

Walaupun masih seputar pemberkatan Bait Suci di Yerusalem, saat-saat Israel memasuki masa keemasannya, raja Salomon sudah mengalami oposisi politik dari banyak pihak. Dari sudut praktis, sejumlah orang menentang besarnya jumlah biaya dan tenaga rodi (kerja paksa) yang dibutuhkan untuk membangun “rumah” khusus untuk YHWH ini. Dari sudut spiritual, sejumlah orang memandang Bait Suci ini sebagai upaya yang lancang dan pongah untuk “meng-kandang-kan” atau “memenjarakan” Allah – Raja surga dan bumi – pada lokasi tertentu buatan manusia. Di hadapan para pendukung maupun penentangnya di Israel – dan di hadapan YHWH – Salomo mendoakan tiga hal:

Pertama, dia memanjatkan puji dan syukurnya untuk belas kasihan Allah yang begitu banyak dan besar (1Raj 8:22-24). Israel telah berhasil keluar dari perbudakan di Mesir, telah menanggung tahun-tahun penuh derita sebagai pengembara menuju tanah terjanji melalui padang gurun Timur Tengah, dan akhir memasuki tanah terjanji yang dipenuhi susu dan madu. Di sini orang-orang Israel diberdayakan oleh Allah untuk mengusir keluar kekuatan-kekuatan yang ada, mendirikan kota-kota mereka, menciptakan pemerintahan mereka, dan (di bawah Daud dan Salomon) mengembangkan sebuah bangsa yang diakui kekuatannya, bahkan oleh bangsa-bangsa di sekelilingnya. Bagian akhir dari janji Allah sekarang dapat menghasilkan buah selagi YHWH memasuki Bait Suci di mana Dia berjanji nama-Nya akan tinggal di sana.

1 KINGS 8Kedua, Salomo mengakui bahwa Bait Suci ini tidak mampu untuk memuat Allah Yang Mahakuasa (lihat 1Raj 8:27). Walaupun Bait Suci itu sungguh penuh dengan kemuliaan, dan cemerlang seperti kecermelangan saat-saat itu dalam sejarah Israel, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan YHWH sendiri. Apa pun yang berhasil dicapai oleh bangsa Israel, mereka akan tetap membutuhkan bimbingan Allah, dan apabila mereka tidak taat mereka pun memerlukan belas kasihan-Nya.

Ketiga, bagian akhir dari doa Salomo tidak ditandai dengan sorak-sorai kemenangan, melainkan dengan permohonan bahwa semua hal yang didoakan akan didengar dan diampuni oleh YHWH (1Raj 8:30). Bagian akhir ini merupakan sebuah klimaks dari doa Salomo, di mana dia mengemukakan janji yang dibuat YHWH kepada bapaknya, Daud: Ia berdoa agar Allah berdiam dalam Bait Suci. Tentu saja, kita tahu bahwa Allah tidak memerlukan sebuah bait/kenisah, gereja dan/atau semacamnya sebagai tempat kediaman-Nya. Namun demikian, siapa di antara kita yang tidak merasakan kehadiran Allah di dalam sebuah gereja? Seperi Bait Suci di masa lampau, bangunan-bangunan gereja  di segala zaman pun adalah tempat-tempat kediaman istimewa, tempat berdoa berjemaah (secara komunal) maupun secara pribadi untuk semua anak-anak Allah. Bangunan-bangunan gereja itu seharusnya mengingatkan kita semua, bahwa Allah ingin membuat tempat kediaman juga dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita mengundang-Nya untuk masuk ke dalam hati kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, kobarkanlah hasratku untuk berdoa. Berikanlah kepadaku kesempatan-kesempatan untuk untuk berada di dalam gereja, dilingkupi oleh kehadiran-Mu dan banyak hal lainnya yang mengingatkanku akan segala hal yang dilakukan Yesus bagiku. Seperti raja Salomo, aku mohon agar Engkau sudi berdiam dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan dengan judul “JANGAN OMDO” (bacaan untuk tanggal 9-2-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal  7-2-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Februari 2016 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS