YESUS SANGAT SENANG UNTUK MENGUBAH HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici, Perawan (OFS), Pendiri Tarekat OSU  – Rabu, 27 Januari 2016)

 n80

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

Dengan mengedepankan perumpamaan tentang seorang penabur, Markus memberi kesempatkan kepada kita untuk “icip-icip” sedikit saja dari ajaran Yesus yang indah. Sampai titik ini, Markus fokus pada banyak karya Yesus: penyembuhan dan mukjizat serta tanda heran lainnya. Sekarang, melalui cerita ini Markus mulai menunjukkan cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menggambarkan kemurahan hati Allah yang berlimpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih sabda-Nya, mengundang kita agar dapat mengenal kasih dan belas-kasih-Nya. Allah senantiasa mengulurkan tangan-tangan kasih-Nya kepada kita. Dengan mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah meninggalkan kita sebenarnya memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan yang besar.

Setiap benih yang jatuh ke tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh jika bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah sendiri. Namun, bagaimana kita menentukan bahwa tanah hati kita itu baik? Yesus memberikan beberapa hal untuk kita perhatikan:

  • Apakah keragu-raguan dan ketidakpercayaan langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawakan oleh sabda Allah (Mrk 4:15)?
  • Bilamana datang kesulitan atau pengejaran dan penganiayaan karena iman-kepercayaan kita, apakah kita berdiri tegak dalam iman kita, atau iman kita menjadi menyusut, malah sampai hilang (Mrk 4:16-17)?
  • Apakah kita begitu terbebani oleh urusan-urusan dunia ini? Apakah pengejaran harta-kekayaan dan hasrat untuk memperoleh hal-hal duniawi lainnya mengambil tempat yang lebih banyak dalam hati kita daripada kehadiran Yesus (Mrk 4:18-19)?

Kita tidak boleh sampai berputus-asa karena batu-batu dan duri-duri ketidakpercayaan, pelanturan, atau rasa takut yang menghalangi sabda Allah untuk menjadi berakar dalam hati kita. Yesus sangat senang untuk mengubah hati kita jika kita meminta kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang luarbiasa dengan diri kita masing-masing, sebagaimana Dia senantiasa bersikap sabar terhadap para murid-Nya yang pertama. Dia senang untuk menjelaskan kepada kita “rahasia Kerajaan Allah” selagi kita memperkenankan benih sabda-Nya bertumbuh dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, siapkanlah hati kami agar dapat menerima sabda Allah lebih dan lebih lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami hal-hal yang datang dari Allah, dan kasih-Nya yang mendalam serta kesabaran-Nya melihat kami dalam kelemahan-kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat menghasilkan buah berlimpah bagi Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI” (bacaan tanggal 27-1-16) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

Cilandak, 25 Januari 2016 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS