HUKUM TERTINGGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 20 Januari 2016)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA 

Keluarga Fransiskan Conventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4).

Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi dan merupakan salah satu isu konflik dengan orang-orang Farisi, hal mana kelihatannya telah menyebabkan ketegangan yang serius antara diri-Nya dengan para petinggi agama Yahudi. Di samping tindakan penyembuhan aktual yang memang secara keras dilarang oleh hukum Sabat, penyembuhan-penyembuhan Yesus itu membuat orang berduyun-duyun datang menyaksikan dan juga membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan, semua itu sangat mengganggu istirahat Sabat.

Akan tetapi, di sini Yesus mengajar satu pelajaran penting. Hukum itu baik, dalam hal ini hukum Sabat. Namun hukum ini tidak boleh mengobok-obok pelayanan karitatif (Latin: caritas = kasih), artinya melakukan perbuatan baik bagi sesama. Jadi, terkadang Yesus memang dipandang melakukan tindakan melawan hukum Sabat dan menantang para ahli Taurat dan Farisi. Tetapi, di sini hanya ada dua pilihan: mengikuti Hukum cintakasih-Nya atau tidak!

Kita juga harus menentukan sikap tegas berkaitan dengan cintakasih Kristiani. Apakah kita mau mengubah cara-cara kita yang lama, rutinitas yang biasa untuk melakukan suatu tindakan cintakasih? Maukah kita menolong seorang insan yang sungguh membutuhkan pertolongan karena berada dalam situasi kritis pada suatu pagi, walaupun hal ini berarti tidak dapat menghadiri Misa harian yang sudah merupakan kebiasaan kita?

Bagaimana sikap dan tindakan kita dalam menghadapi kelompok-kelompok yang beriman lain. Apakah tindakan cintakasih senantiasa merupakan keharusan bagi kita, walaupun tidak/kurang populer di mata sahabat-sahabat terdekat kita? Bagaimana sikap kita menghadapi orang-orang miskin, apakah miskin dalam hal keuangan, miskin dalam hal latar belakang pendidikan, atau miskin dalam hal personalitas dan penampilan? Apakah kita bersikap baik dan ramah terhadap mereka seperti kita baik dan ramah terhadap orang-orang yang berada, yang berlatar pendidikan baik, dan yang berpenampilan menarik?

Singkatnya, apakah nilai-nilai yang kita anut senantiasa lurus? Hukum-hukum adalah baik. Hukum-hukum itu adalah semacam rambu-rambu bagi kita dalam menjalani jalan kehidupan kita. Namun hukum cintakasih Kristiani berada di atas rambu-rambu jalanan kehidupan kita, artinya di atas hukum apa pun. Hukum cintakasih Kristiani merupakan tolok ukur akhir dari suatu kehidupan Kristiani yang otentik.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 20-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Januari 2016

Sdr. Frans Indrapradja, OFS 

Advertisements