HUKUM DI ATAS HUKUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 19 Januari 2016)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA 

YESUS DI PADANG GANDUM DENGAN PARA MURID-NYAPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

Narasi tentang Yesus dan para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat, selagi mereka berjalan menuju sinagoga terdapat dalam tiga kitab Injil sinoptik hampir sama, kata demi kata. Kita melihat dari bacaan ini bagaimana orang-orang Farisi memprotes tindak-tanduk para murid Yesus, dan mengatakan bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang terlarang pada hari Sabat. Menyiapkan makanan adalah salah satu dari 39 macam pekerjaan yang termasuk dalam daftar yang disusun oleh para rabi sebagai tindakan-tindakan yang melawan istirahat Sabat. Fakta bahwa para rabi itu memasukkan tindakan memetik bulir gandum atau jagung sebagai pekerjaan menunjukkan betapa keras dan ketat mereka dalam menafsirkan Hukum.

Seorang penganut aliran keras benar-benar ke luar untuk menyalahkan orang-orang yang tidak bersalah guna membuat dirinya sendiri kelihatan baik. Jawaban Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya yang mendalam atas kebutuhan-kebutuhan manusia, artinya pendekatan Yesus terhadap Hukum jauh lebih manusiawi.

Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci tentang Raja Daud yang karena kebutuhan fisik/manusiawi dari para bawahannya (lapar) menilai sebagai benar untuk bertindak sesuatu yang dalam keadaan normal dilarang, yaitu masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam dalam keadaan normal (lihat 1Sam 21:1-6; Imam Ahimelekh, bukan Abyatar). Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada Hukum lain di atas hukum yang tertulis, apakah hukum itu berasal dari Allah atau manusia; sebuah Hukum yang ditempatkan oleh sang Pencipta ke dalam kodrat manusia: kebutuhan-kebutuhan legitim yang bersifat urgent melampaui hukum yang tertulis.

Apabila kita membaca ulang  bacaan Injil hari ini dan merenungkannya, maka secara tahap demi tahap kita akan mengenal Yesus lebih mendalam. Kita melihat Dia secara lebih jelas lagi sebagai Allah dan manusia. Kita akan melihat bahwa Yesus adalah sungguh seorang manusia yang sangat memperhatikan bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil dari orang-orang lain. Yesus juga sungguh ilahi, yang dipenuhi dengan hikmat yang benar untuk langsung melihat melalui kelemahan hukum, dipenuhi dengan kasih ilahi, prihatin atas segala hal yang dihadapi orang-orang, seakan Ia berkata: “Bahkan hari yang diperuntukkan untuk menghormati diri-Ku bagaimana pun tidak boleh melukai (hati) umat-Ku yang Kukasihi, teristimewa mereka yang paling dina.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan atas hari Sabat dan kasih-Mu tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Hukum cintakasih-Mu adalah sukacita kami dan keselamatan kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 22-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 17 Januari 2016 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS