TAAT KEPADA ALLAH DAN HIDUP SETURUT KEHENDAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 14 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Kapusin 

Philistines_capture_ark_1375-152

Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa  TUHAN (YHWH) membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian YHWH semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera setelah tabut perjanjian YHWH sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut YHWH telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. (1 Sam 4:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25; Bacaan Injil: Mrk 1:40-45 

Walaupun YHWH sungguh hadir di tengah-tengah pertempuran antara orang Israel dan orang Filistin, pasukan Israel tetap saja kalah dengan begitu banyak korban jiwa. Mengapa Allah membiarkan hal seperti itu sampai terjadi? Apakah Ia tidak cukup memiliki kuat-kuasa untuk melindungi orang Israel? Apakah Ia tidak lagi peduli pada orang Yahudi yang bertempur dan keluarga-keluarga mereka?

Apabila kita melihat ke belakang dalam Kitab 1Samuel kita akan menemukan sebuah pentunjuk. Bertahun-tahun lamanya, Hofni dan Pinehas – imam-iman yang memainkan suatu peranan utama dalam kekacauan itu – telah menjadikan bait suci YHWH di Silo menjadi sebuah tempat  berbagai tindakan korupsi dan tindakan a susila. Kitab Suci dengan jelas menyebut anak-anak Eli ini sebagai orang-orang dursila (bacalah keseluruhan 1Sam 2:12-36). Mereka menggunakan persembahan kurban kepada YHWH sebagai kesempatan untuk kenikmatan jasmani dlsb. Sebuah petunjuk lainnya terdapat dalam bacaan hari ini. Pada waktu orang Israel kalah dalam pertempuran pertama, mereka bertanya kepada diri sendiri mengapa Allah telah membiarkan hal itu terjadi – namun mereka tidak menanti sampai datang jawaban dari Allah. Barangkali melalui kekalahan mereka Allah mencoba untuk menarik perhatian mereka, untuk menunjukkan sejumlah ketidaksetiaan yang telah merusak hubungan dengan-Nya, seperti halnya yang terjadi dengan Hofni dan Pinehas. Namun, bukannya melakukan pemeriksaan batin, mereka malah menyuruh orang mengambil tabut perjanjian YHWH dari Silo: “Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita” (1Sam 4:3).

Allah tidak akan mau digunakan oleh manusia, apalagi disalahgunakan! Tabut perjanjian bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah jimat yang secara otomatis akan mengusir segala kejahatan. Orang Israel percaya akan kehadiran Allah dalam tabut perjanjian tanpa mau memeriksa dan melihat kehadiran Allah dalam hati dan tindakan-tindakan mereka sendiri. Mereka memperlakukan tabut perjanjian seperti sebuah benda magic namun mereka mengabaikan keharusan untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan mereka dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya, mengapa mereka dikalahkan oleh orang Filistin.

Inginkah kita menjadi pemenang dalam kehidupan kita? Untuk itu kita harus taat kepada Tuhan! Inginkah kita dibebaskan dari suatu pola dosa atau suatu penolakan yang menyakitkan terhadap seseorang? Untuk itu kita harus menaruh kehidupan kita sejalan dengan kehendak Allah. Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami perlindungan-Nya dan kuasa-Nya, bukan karena kita melakukan segala sesuatu dengan benar, melainkan karena kita telah menyerahkan kendali atas hidup kita sendiri kepada Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua. Allah kita itu bukan seperti seorang yang gila hormat, Ia tidak membutuhkan segala empty gestures dari pihak manusia. Allah senantiasa mencari kesempatan untuk mentransformasikan kita menjadi orang-orang yang telah direncanakan-Nya ketika diciptakan. Untuk itu yang diperlukan dari kita adalah hati yang terbuka bagi-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap Dia dalam ketaatan kepada-Nya, untuk sepenuhnya mengandalkan diri kita pada kuasa Roh-Nya. Inilah jalan menuju kebebasan yang sejati.

DOA: Bapa surgawi, aku menempatkan hidupku dalam tangan-tangan-Mu, percaya sepenuhnya pada kasih-Mu. Semoga kehendak-Mu terjadi atas diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA” (bacaan untuk tanggal 14-1-16), dalam situs/blog SANG SABDA  http://sangsabda.wordpress.com; 16-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-1-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Januari  2016 [Peringatan S. Bernardus dr Corleone] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS