MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

20140531_Magnificat

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan  dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria.  Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual.  Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religius.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “SEMANGAT NATAL” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS