KITA DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven  – Jumat, 11 Desember 2015) 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomDengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6 

Ada “pepatah” Inggris yang dalam bahasa Indonesia-nya kira-kira berbunyi sebagai berikut: “Anda dapat menyenangkan sejumlah orang sekali-kali waktu, namun anda tidak dapat menyenangkan semua orang setiap waktu!” “Pepatah” ini memang mengandung kebenaran. Dalam sebuah dunia yang diselubungi oleh kegelapan, selalu akan ada orang-orang yang menentang kebahagiaan sejati. Resistensi mereka terkadang terasa begitu kuatnya, karena yang mereka percayai adalah kebahagiaan palsu dengan berbagai macam bentuknya. Namun kita adalah adalah anak-anak terang karena Yesus Kristus telah membebas-merdekakan kita.

Kita mengenal Yesus, namun hal itu tidak berarti kita dikecualikan dari cemoohan atau penolakan, seperti yang dialami oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis. Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi Kristus, dan hal ini seringkali menuntut kita untuk menjauhi apa yang malah dinilai dapat diterima secara sosial. Pada saat-saat seperti itu, kita harus tetap teguh bertahan pada apa yang kita yakini sebagai benar.

27330_Seton-Elizabeth-AnnAda seorang perempuan seperti itu, namanya Elizabeth Ann Bayley. Dia dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya-terpandang di New York City pada tanggal 28 Agustus 1774 dan dibaptis dalam Gereja Episkopal (Anglikan). Ayahnya adalah Dr. Richard Bailey dan ibunya adalah Catherine Charlton, dua keluarga terkemuka dari keluarga-keluarga yang tinggal di kawasan New York. Kakek-neneknya dari pihak ayah adalah kaum Huegenot Perancis (Protestan). Elizabeth menikah dengan seorang pengusaha sukses bernama William Seton. Namun setelah mengalami kerugian besar pasca Revolusi Perancis, kondisi kesehatan William menjadi semakin buruk. Guna mencari iklim yang lebih baik, maka dia, Elizabeth dan puteri mereka yang tertua melakukan perjalanan ke Italia – namun dia meninggal dunia tidak lama setelah mendarat di Italia.

Sementara berdiam di tengah keluarga-keluarga para sahabat William, Elizabeth mengalami untuk pertama kalinya suasana kekatolikan keluarga-keluarga tersebut, dan hatinya sungguh tergerak dengan mendalam karena pengalamannya tersebut. Sepulangnya ke Amerika Serikat – walaupun menghadapi tentangan dari keluarganya – Elizabeth menjadi seorang Katolik. Sebagai seorang janda yang harus menopang lima orang anaknya yang masih kecil-kecil, Elizabeth mengabaikan ekspektasi-ekspektasi dari kelas sosialnya dengan membuat sebuah sekolah. Belakangan dia mengucapkan kaul dan kemudian mendirikan sebuah komunitas religius. Akhirnya dia membuat sebuah sekolah swasta yang merupakan awal dari sistem sekolah Katolik di Amerika Serikat. Dalam setiap langkahnya, Elizabeth harus menghadapi oposisi, termasuk dari dalam Gereja sendiri. Namun Elizabeth maju terus dengan penuh ketekunan. Elizabeth meninggal dunia pada tanggal 4 Januari 1821. Elizabeth menjadi orang kudus pertama yang lahir di Amerika. Elisabeth dibeatifikasikan sebagai seorang Beata oleh Paus Yohanes XXIII pada tanggal 17 Maret 1963 dan Paus Paulus VI mengkanonisasikannya sebagai seorang Santa pada tanggal 14 September 1975. Pesta orang kudus pertama yang lahir di Amerika Serikat ini dirayakan dengan meriah di Amerika Serikat, teristimewa di New York City. Koran-koran memuat berita ini, termasuk New York Times. Walaupun hanya melalui televisi, kami menyaksikan pesta besar umat Katolik Amerika Serikat pada waktu itu. Dengan bangga kami dapat mengatakan: Yes, we were there! 

john (1)Seperti Yesus, baik Yohanes Pembaptis maupun Santa Elizabeth Seton merupakan tokoh-tokoh kontroversial, namun pada saat bersamaan mereka juga instrumental dalam memajukan rencana Allah.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, apakah kita (anda dan saya) ingin membuat perubahan dalam dunia dan memimpin orang-orang kepada Allah? Janganlah kita takut ditolak. Marilah kita memperkenankan Yesus menjadi Pembimbing atau Penunjuk Jalan kita!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memanggilku ke luar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Anugerahkanlah kepadaku keberanian dan ketekunan untuk menjadi seorang pribadi seturut rencana-Mu bagi diriku. Aku memuji Engkau, ya Tuhan Yesus, sukacita hidupku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 11-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 Desember 2015 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS