IMAN SEORANG IBU DAN TUJUH ORANG ANAKNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 18 November 2015)

OSCCap. (Ordo Klaris Kapusin): B. Solomea, Perawan 

480px-150-the_courage_of_a_mother

Terjadi pula yang berikut ini: Tujuh orang bersaudara serta ibu mereka ditangkap. Lalu dengan siksaan cambuk dan rotan mau dipaksa oleh sang raja untuk makan daging babi yang haram.

Tetapi terutama ibu itu sungguh mengagumkan secara luar biasa. Ia layak dikenang-kenangkan baik-baik. Ia mesti menyaksikan ketujuh anaknya mati dalam tempo satu hari saja. Namun demikian, itu ditanggungnya dengan besar hati oleh sebab harapannya kepada Tuhan. Dengan rasa hati yang luhur dihiburnya anaknya masing-masing dalam bahasanya sendiri, penuh dengan semangat yang luhur. Dengan semangat jantan dikuatkannya tabiat kewanitaannya lalu berkatalah ia kepada anak-anaknya: “Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandungku. Bukan akulah yang memberi kepadamu nafas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing! Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Dengan belas kasihan-Nya Tuhan akan memberikan kembali roh dan hidup kepada kamu, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukumnya.”

Adapun raja Antiokhus mengira bahwa ibu itu menghina dia dan ia menganggap bicaranya suatu penistaan. Anak bungsu yang masih hidup itu tidak hanya dibujuk dengan kata-kata, tetapi sang raja juga menjanjikan dengan angkat sumpah bahwa anak bungsu itu akan dijadikannya kaya dan bahagia, asal saja ia mau meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya. Bahkan ia akan dijadikannya sahabat raja dan kepadanya akan dipercayakan pelbagai jabatan negara. Oleh karena pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali, maka sang raja memanggil ibunya dan mendesak, supaya ia menasehati anaknya demi keselamatan hidupnya. Sesudah ia lama mendesak barulah ibu itu menyanggupi untuk meyakinkan anaknya. Kemudian ia membungkuk kepada anaknya lalu dengan mencemoohkan penguasa yang bengis itu berkatalah ia dalam bahasanya sendiri: “Anakku, kasihanilah aku yang sembilan lamanya mengandungmu dan tiga tahun lamanya menyusuimu. Aku pun mengasuhmu dan membesarkanmu hingga umur sekarang ini dan terus memeliharamu. Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikanpun bangsa manusia dijadikan juga. Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya, hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu dan terimalah maut itu, supaya aku mendapat kembali engkau serta kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak.”

Ibu itu belum mengakhiri ucapannya, maka berkatalah pemuda itu: “Kamu menunggu siapa? Aku tidak mentaati penetapan raja. Sebaliknya aku taat kepada segala ketetapan Taurat yang sudah diberikan oleh Musa kepada nenek moyang kami. Niscaya baginda yang menjadi asal usul segala malapetaka yang menimpa orang-orang Ibrani tidak akan terluput dari tangan Allah …” (2Mak 7:1,20-31) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; Bacaan Injil: Luk 19:11-28 

ciseri_antonio_-_das_martyrium_der_sieben_makkabc3a4er_-_1863Dua buah kitab Makabe menggambarkan perjuangan orang-orang Yahudi melawan raja-raja asing guna mencapai kemerdekaan di bidang agama maupun politik. Praktek bangsa-bangsa kafir (dalam hal ini helenisme) telah “mengkorupsi” atau “merusak” rituale penyembahan di Bait Suci dan orang-orang Yahudi dipaksa untuk menundukkan diri kepada praktek-praktek kekafiran. Ada dua kekuatan yang eksis pada masa itu. Di satu pihak ada para raja berjaya Seleukid (dinasti Diadoki dari Makedonia) bersama para pendukung Yahudi pengagum orang-orang kafir tersebut. Di lain pihak ada bangsa Israel yang ingin tetap setia pada hukum Taurat yang  telah diberikan oleh Musa. Cerita-cerita dari kitab-kitab Makabe (catatan: 3Mak dan 4Mak adalah tergolong kitab-kitab apokrifa … tidak termasuk kanon!) menunjukkan bagaimana Yudaisme dipelihara di tengah-tengah dan di depan mata bangsa penindas yang sangat kejam. Kitab-kitab Makabe ditulis untuk mendidik dan memberikan inspirasi kepada orang-orang Yahudi yang berjuang untuk setia kepada Allah.

Sebagai umat Allah, kita dapat belajar banyak dari kesetiaan yang ditunjukkan oleh keluarga kudus ini. Tujuh orang bersaudara dan kemudian ibunda mereka (2Mak 7:41), satu persatu dibunuh demi iman mereka. Mereka tidak sudi melihat siapapun dan/atau apapun dari dunia ini menjadi penghalang bagi mereka dalam melangkah di jalan kebenaran yang selama ini mereka yakini dengan penuh iman. Kepercayaan mereka kepada Allah dan janji-janji-Nya dimanifestasikan dalam pengakuan iman mereka akan kasih Allah, kepercayaan mereka akan kebangkitan kepada hidup baru, dan keadilan Allah. Ketujuh laki-laki bersaudara itu dan ibunda mereka, semuanya mati sebagai martir, karena meyakini bahwa kebenaran Allah akan menang.

Pesan kepada umat tentang iman yang harus dibela sampai mati adalah sesuatu yang terus dihadirkan oleh Gereja dalam liturginya. Paling sedikit dalam satu bulan, Gereja menghormati seorang dari para martirnya. Apa maksudnya? Untuk mengingatkan kita tentang pentingnya memegang teguh kebenaran, walaupun di tengah-tengah berbagai tekanan yang berasal dari pengaruh-pengaruh duniawi. Contoh yang diberikan oleh sang ibu dari ketujuh anak laki-laki itu, yang dengan iklas menyerahkan anak-anaknya agar Allah tidak dicederai dan mengalami penistaan, dapat menguatkan kita selagi kita berjalan di jalan iman Kristiani, selagi kita mengikuti jejak Kristus!

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah hati kita berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Allah seperti sang ibu dalam bacaan di atas, sehingga kita dapat memberi inspirasi kepada anak-anak kita? Apakah kita memiliki hasrat agar anak-anak kita atau para sahabat kita akan memiliki hati yang berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Allah saja?

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, Allah dapat mengubah hati selagi kita datang kepada-Nya dalam doa dan tinggal bersama-Nya dalam kegiatan-kegiatan kita sehari-hari. Marilah kita memusatkan pandangan kita kepada-Nya, sang Penyempurna iman dan pengharapan kita, yang memiliki kuat-kuasa yang mampu mentransformasikan hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, semoga kemenangan para martir-Mu membawa sukacita sejati kepada kami. Semoga teladan hidup mereka memperkuat iman kami dan doa-doa mereka senantiasa memperbaharui keberanian kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI” (bacaan tanggal 18-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http:/sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-11-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 November 2015 [HARI MINGGU BIASA XXXIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS