MENERIMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria – Selasa, 17 November 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Elisabet dr Hungaria, Pelindung OFS 

ZAKHEUS - 004Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10) 

Bacaan Pertama: 2Mak 6:18-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-7 

Ada perbedaan yang menarik dari penerimaan diri Yesus sebagai seorang dewasa oleh Zakheus – seorang pendosa yang baru bertobat – dan penolakan kedatangan kanak-kanak Yesus oleh pemilik rumah penginapan di Betlehem sekitar tiga puluh tiga tahun sebelumnya. Mendengar kata-kata Yesus kepadanya bahwa akan Dia menumpang di rumahnya pada hari itu, maka secara spontan dan penuh sukacita Zakheus pun menerima Yesus. Zakheus menyediakan rumahnya bagi Yesus Kristus, sedang di Betlehem tiga dasawarsa sebelumnya dicatat oleh Lukas dengan sederhana …… “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7).

Bukankah potongan kalimat sederhana ini masih keras gemanya sampai hari ini? Bukankah hal ini masih tidak jauh berbeda dalam hal kita memperlakukan Yesus Kristus sampai dengan hari ini? Tentu tidak terhadap diri-Nya, akan tetapi terhadap diri para anggota tubuh-Nya. Apa maksudnya? Kita menerima Kristus dalam diri orang-orang yang kita senangi atau sukai, dan kita suka menolak Dia dalam diri mereka yang kita tidak sukai. Kita yang hidup pada abad ke-21 ini cukup diyakinkan bahwa kebanyakan orang yang mengerumuni Yesus pada waktu itu juga tidak senang melihat Yesus berbicara dengan Zakheus, atau pun sebelumnya, yaitu ketika Yesus mengundang diri-Nya sendiri untuk menumpang di rumah si kepala pemungut cukai pada hari itu.

Sebagai seorang kepala pemungut cukai, Zakheus adalah seorang pejabat penting di tanah pendudukan kekaisaran Romawi itu. Namun Zakheus melupakan pernak-perniknya jabatan. Tanpa mempedulikan semua mata yang terus mengikuti segala gerak-geriknya, Zakheus memanjat sebatang pohon ara agar dapat melihat orang apakah Yesus itu. Zakheus bertanggung jawab atas pemungutan cukai di seluruh distrik Yerikho. Kenyataan ini samasekali tidak membuat dirinya populer di mata orang banyak. Namun apapun pandangan orang-orang tentang Zakheus, Yesus melihat dirinya sebagai seorang anak Abraham (Luk 19:9), “seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya” (bdk. Yoh 1:47). Tindak-tanduk Zakheus yang aneh-menggelikan, seperti memanjat pohon, bukanlah didorong oleh rasa ingin tahu belaka, melainkan oleh suatu motivasi yang lebih mendalam lagi. Zakheus pun tidak menjadi bingung dan gelisah karena reaksi-reaksi negatif orang banyak terhadap hasratnya untuk bertemu dengan Yesus dan bersahabat dengan-Nya. Kelihatan bahwa sikap dan perilaku yang ditunjukkannya datang dari hati nuraninya. Hal ini tidak berarti segalanya sempurna, tetapi jelas Yesus mengajarkan kepadanya lewat kata-kata dan contoh, dan Zakheus kelihatannya adalah seorang pribadi yang akan menyesuaikan kembali kehidupannya. Demikian pula seharusnya dengan kita masing-masing.

Faktor kunci dalam menerima Yesus Kristus adalah Perayaan Ekaristi Kudus. Begitu kita belajar untuk menerima Kristus selagi Dia hadir di tengah-tengah kita dalam berbagai tanda serta lambang cintakasih dalam Ekaristi, maka di sana pula timbul suatu kemungkinan yang lebih besar  bagi kita untuk mampu menerima-Nya dalam tanda-tanda manusiawi dari sesama kita. Liturgi Ekaristi menghadirkan Dia bagi kita, baik dalam “liturgi Sabda” dengan bacaan-bacaan Injil, Mazmur Tanggapan dan bacaan (2) Kitab Suci lainnya, maupun dalam “liturgi Ekaristi”, sebagaimana pada masa hidup-Nya di muka bumi. Dari Misa yang satu ke Misa yang lain, Yesus mengatakan kepada kita, bahwa dia akan makan bersama kita. Marilah kita belajar untuk menerima Dia dalam Misa Kudus, sehingga kita pun akan dimampukan untuk menerima Dia dalam diri sesama kita di kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Tuhan Yesus, mampukanlah aku untuk menerima Engkau dalam tanda-tanda cintakasih-Mu dalam Perayaan Ekaristi, sehingga dengan demikian akupun pada akhirnya dapat menerima Engkau dalam diri sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “PERTOBATAN SEJATI SENANTIASA DIIKUTI DENGAN PERBUATAN BAIK” (bacaan tanggal 17-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 14 November 2015 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS