HANYA BAPA SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN B] – 15 November 2015)

 SECOND COMINGTetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu juga Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mrk 13:24-37) 

Bacaan pertama: Dan 12:1-3; Mzm 16:5-11; Bacaan kedua: Ibr 10:11-14,18 

“Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.” Setiap kali kita mengucapkan doa yang familiar ini, kita sebenarnya mengungkapkan kepercayaan kita bahwa dunia tidak akan berakhir. Untuk diketahui, versi bahasa Inggris dari doa “kemuliaan” ini menggunakan ungkapan “world without end” untuk ungkapan bahasa Indonesia “sepanjang segala masa”. Akan tetapi, baik Kitab Daniel maupun Injil Markus yang kita baca pada hari ini, memprakirakan akhir dunia. Tentunya di sini kita berbicara mengenai dua dunia yang berbeda.

“World without end” keadaan yang menunjukkan keadaan kekal-abadi – juga tanpa awal. “Dunia” dalam bacaan hari ini adalah dunia di mana kita sekarang hidup. Asal-usul dunia kita dipenuhi dengan misteri, seperti juga awal kehidupan manusia. Yang tidak kalah seringnya diperdebatkan bahkan lebih kabur (tak jelas) lagi adalah saat dan cara bagaimana dunia ini musnah.

Orang-orang dari abad ke abad seringkali meramalkan akhir dunia yang tidak dapat dihindari, namun kita mengetahui bahwa dunia yang sudah tua renta ini masih saja bergerak dan hidup seperti biasa, walaupun semakin tidak nyaman dilihat dari banyak seginya.

Ludovico_Mazzolino_-_God_the_FatherPara penulis Kitab Suci yang hidup ribuan tahun lalu membayangkan sebuah dunia yang jauh lebih sederhana ketimbang dunia yang kita kenal sekarang. Mereka berpikir bahwa bumi kita ini seperti meja pingpong yan ditunjang oleh beberapa pilar, dengan pintu yang dapat dibuka di langit untuk membiarkan matahari menyinarkan sinarnya dan hujan turun. Bumi dipandang baru berumur beberapa ribu tahun saja dan jauh lebih besar daripada matahari atau bulan.

Pada hari ini kita mengetahui bahwa bumi sudah ada sejak bermilyar tahun lalu dan berukuran kecil sekali ketimbang ukuran matahari. Sekarang kita menyadari melalui sains modern, bahwa ukuran, umur dan kompleksitas alam semesta sungguh mengagetkan. Baik Kitab Suci (Alkitab) maupun agama tidak pernah dimaksudkan untuk dapat menjelaskan secara ilmiah saat dan cara asal-usul dunia ataupun akhirnya. Cukuplah bahwa Kitab Suci dan agama mengatakan kepada kita bahwa Allah-lah yang bertanggung jawab atas alam semesta dan kita.

Kita wajib  untuk mengabaikan “cetak-biru” tentang akhir zaman yang disusun oleh nabi-nabi palsu zaman ini. Hal seperti ini sudah biasa sebelum tahun 1000, dipicu oleh suatu teks dalam Kitab Wahyu yang menyatakan bahwa rantai yang membelenggu Iblis akan dilepaskan setelah 1000 tahun (lihat Why 20:7). Kita juga masih belum lupa bagaimana menjelang tahun 2000 (akhir dari milenium) prediksi-prediksi kehancuran dunia meningkat lagi.

Ketika Yesus ditanya oleh para rasul-Nya tentang kapan dunia akan  berakhir, Ia menjawab: “Tentang  hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Di sini Yesus berkata-kata dengan sopan-santun, maksudnya: “Hal ini melampaui kompetensi anda – jangan pusing-pusing tentang hal itu.” Pada hari ini Gereja meyakinkan kita kembali bahwa kita tidak mempunyai kerajaan yang abadi di dunia ini, namun harus mencari kerajaan yang di atas sana.

DOA: Bapa surgawi, hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa (Mam 16:9-11). Terpujilah nama-Mu senantiasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:24-32), bacalah tulisan yang berjudul “UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2015 [Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS