PERSEMBAHAN “KECIL” SEORANG JANDA MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN B] – 8 November 2015) 

PERSEMBAHAN JANDA MISKIN - AADalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Bacaan Pertama: 1Raj 17:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Ibr 9:24-28 

Yesus memuji janda miskin yang memasukkan dua keping uang tembaga ke dalam peti persembahan di Bait Suci, karena janda itu memberikan segala apa yang dimilikinya. Kebanyakan dari kita tentunya telah pernah menerima hadiah atau sepotong kalimat yang berisikan kata-kata pujian, kecil dan tidak signifikan dalam dirinya sendiri, namun mempunyai suatu arti yang istimewa di mata kita atau terdengar istimewa di telinga kita. Nilai istimewa tersebut bukanlah disebabkan oleh apa yang diberikan, melainkan karena ketulusan hati si pemberi hadiah atau orang yang mengucapkan kata-kata pujian dimaksud.

Pada hari ini baiklah kita merenungkan apakah selama ini diri kita seperti sang janda miskin dalam relasinya dengan Allah. Saya tidak maksudkan masalah substansi kolekte yang kita berikan, walaupun hal itu penting. Uang memang diperlukan untuk mendukung Gereja dan begitu banyak kegiatannya, namun ada sesuatu yang lebih vital. Allah tidak hanya menginginkan kemurahan-hati dalam memberikan uang sumbangan. Allah juga menginginkan kemurahan-hati kita dalam pemberian-diri kita sendiri.

Sebagai umat Kristiani yang Katolik kita tentunya sering mendengar ide bahwa kita harus mempersembahkan diri kita sendiri kepada Allah dalam Misa Kudus, bahwa kita harus memberikan hasil dari segala sesuatu yang telah kita lakukan, termasuk semua sukacita dan kesusahan kita, seraya berjanji untuk mencoba menghayati suatu kehidupan di masa depan yang pantas untuk dipersembahkan kepada Allah. Pemberian diri kita sendiri adalah suatu tindakan kasih dan puji-pujian bagi Allah. Sekarang, sampai berapa bernilainya persembahan kita itu? Kita dapat berpikir bahwa nilai intrinsiknya tidak lebih tinggi dari sekuntum bunga mawar yang dihadiahkan seorang anak kepada ibundanya pada hari ulang tahunnya, atau kata-kata pujian seorang anak kepada ayahnya. Kita tahu bahwa ketulusan hati sangatlah penting, namun apakah hal itu cukup untuk mentransformasikan persembahan kita menjadi sesuatu yang sungguh signifikan bagi Allah?

KOMUNI KUDUS - 111Doktrin Katolik mengajarkan kepada kita, bahwa dalam Misa Kudus, Yesus memperbaharui persembahan diri-Nya di atas kayu salib, pemberian diri-Nya kepada Bapa surgawi. Kematian Yesus adalah tindakan kasih yang tiada taranya, sepanjang sejarah umat manusia. Hal itu merupakan suatu tindakan yang benar-benar pantas dan layak di mata Allah Bapa. Tidak ada sesuatupun yang pernah lebih menyenangkan dan memuaskan Allah daripada kematian Yesus di kayu salib. Akan tetapi, di mana kita masuk? Melalui Misa Kudus, Yesus membuat persembahan diri-Nya kepada Bapa menjadi kurban yang hidup, sehingga persembahan-Nya menjadi persembahan Gereja, persembahan kita. Perhatikanlah apa yang terjadi pada Misa Kudus: selama berlangsungnya Persiapan Persembahan di altar, satu tetes air dimasukkan ke dalam piala berisikan anggur. Tetesan air itu bercampur dengan anggur dan menjadi bagiannya. Tetesan air yang hampir tidak berarti samasekali itu sekarang ikut ambil bagian dalam sifat anggur, selagi setetes air itu mengambil warna dan ciri rasa anggur. Dengan cara yang kurang lebih sama, Yesus mengambil hidup kita dan mentrasformasikannya dalam Misa Kudus agar dengan demikian menjadi sebagian dari kurban-Nya. Yesus memperbaharui persembahan diri-Nya dalam Misa Kudus, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan bagi kita – agar dengan demikian Ia dapat mengejar sukacita dan kesusahan manusiawi yang biasa, pekerjaan kita dan waktu santai kita, dan memberikan semua itu suatu makna baru yang luar biasa.

Keseluruhan “Doa Syukur Agung” adalah sebuah tindakan penyembahan kepada Allah, namun secara khusus pada saat konsekrasi-lah Yesus membuat diri-Nya hadir sebagai kurban persembahan. Pada momen-momen ini, kita tidak boleh menjadi sekadar penonton yang pasif. Kita harus menyadari fakta bahwa sesuatu sedang terjadi – bahwa Yesus sedang memperbaharui persembahan diri-Nya bagi Allah dan Ia juga sedang mengundang kita untuk mempersembahkan diri kita bersama diri-Nya.

Dalam “Doa Syukur Agung IV” kita mendengar imam selebran berkata: “Perkenankanlah agar semua orang, yang mengambil bagian dari roti dan piala yang satu dan sama ini, dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh, dan disempurnakan dalam Kristus menjadi kurban yang hidup, sebagai pujian bagi-Mu.” Ungkapan persembahan tersebut mencapai puncaknya dalam “doksologi”: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa.” “Amin” kita yang kita ucapkan/nyanyikan dengan mantap adalah cara kita memproklamasikan dalam satu patah kata, bahwa kita ikut ambil bagian dengan Kristus yang mempersembahkan diri-Nya dalam puji-pujian dan kasih bagi Allah Bapa.

Pokok yang saya ingin kemukakan di sini adalah, bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang berarti dalam Misa Kudus. Dua keping uang tembaga yang dimasukkan sang janda miskin ke dalam peti kolekte di Bait Suci menyenangkan Allah karena ketulusan dan kemurahan hati sang janda miskin, namun segala ketulusan dan kemurahan hati dalam dunia tidak dapat membuat dua keping uang tembaga secara aktual lebih bernilai daripada nilai nominalnya. Persembahan kita dalam Misa Kudus membutuhkan ketulusan dan kemurahan hati diri kita agar dapat membuat persembahan itu menyenangkan Allah, namun Yesus sendirilah yang memberikan suatu nilai yang riil atas persembahan kita karena persembahan kita itu tidak pernah akan mempunyai nilai dari dirinya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah agar kami yang mengambil bagian dalam Ekaristi dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh, dan disempurnakan dalam Kristus menjadi kurban yang hidup, sebagai pujian bagi-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI JANDA-JANDA MISKIN YANG SANGAT KAYA DALAM IMAN” (bacaan tanggal 8-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 November 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS