SALAM DARI PAULUS DAN KAWAN-KAWAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 7 November 2015) 

apostole_paul_Hand_Made_Icons__zoomSampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara seiman yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara sebangsaku, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku. Mereka orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan telah hidup dalam Kristus sebelum aku.

Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

Bersalam-salamlah kamu dengan ciuman kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini.

Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara seiman kita.

[Anugerah Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.]

[Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, – menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyingkapan rahasia yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman – bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya!Amin.] (Rm 16:3-9,16,22-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11;  Bacaan Injil: Luk 16:9-15 

Paulus telah bertemu dengan Priskila dan Akwila pada perjalanan misionernya yang pertama ke Korintus, dan telah bekerja dengan mereka dalam bisnis pembuatan tenda. Kita lihat dalam bacaan hari ini bahwa pasutri itu juga telah menjadi “teman-sekerja” Paulus dalam misi Kristiani; mereka menemani Paulus pergi ke Efesus di mana mereka mengajar Apolos tentang “Jalan Allah” (Kis 18:26). Paulus merasa berhutang kepada mereka yang telah menyelamatkan hidupnya, yaitu pada waktu berkonfrontasi dengan Demetrius, seorang tukang perak (Kis 19:23). Priskila dan Akwila bertanggung jawab memimpin komunitas yang berkumpul dalam rumah mereka (1Kor 16:19).

Walau pun Paulus tidak menikah, hubungannya dengan pasutri Priskila dan Akwila tentunya mempengaruhi refleksi teologisnya. Keluarga Kristiani adalah gereja domestik (Latin: ecclesia domestica). Kita patut bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita membuat keluarga-keluarga kita menjadi tempat di mana hormat kepada Allah dan saling menghargai satu sama lain membentuk nilai-nilai kita? Apakah kita berpikir dan memandang keluarga kita masing-masing sebagai gereja domestik?

Epenetus disebut Paulus sebagai “buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus” (Rm 16:5), suatu catatan geografis yang menyarankan tentang keberadaan kelompok non-Romawi dalam jemaat di Roma. Dalam bagian akhir dari suratnya ini, Paulus menyebutkan 23 nama dan merujuk kepada keluarga-keluarga yang tidak disebutkan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Banyak dari nama-nama itu adalah nama-nama budak dalam Kekaisaran Romawi. Paulus  menyebut dua orang sebagai rasul, yaitu Andronikus dan Yunias. Istilah rasul di sini bukan dalam artiannya yang sempit, yaitu yang kedua belas. Ingaatlah, bahwa Paulus dan Barnabas juga dinamakan “rasul-rasul” (Kis 14:14; Rm 1:1).

Paulus menyebutkan juga “ciuman kudus” (Rm 16:16). Tradisi para rabi Yahudi ini ternyata diambil oper juga oleh umat Kristiani dan dalam liturgi komunitas-komunitas perdana. Liturgi Romawi yang telah direstorasi menempatkan “ciuman kudus” ini sebelum pemecahan roti. Dalam konteks ini, ungkapan penerimaan dan persekutuan merupakan suatu jaminan dedikasi terhadap perdamaian dan persatuan dalam tubuh Kristus.

Rm 16:20 adalah sebuah berkat, sehingga berbagai salam setelah itu bersifat anti-klimaks. Praktek Paulus menggunakan sekretaris jelas dalam surat ini dengan diselipkannya secara pribadi nama Tertius (Rm 16:22). Praktek penggunaan sekretaris ini memainkan suatu peranan yang signifikan dalam diskusi di antara para pakar Kitab Suci perihal surat-surat mana yang secara otentik adalah karya Paulus sendiri, dan surat-surat mana yang merupakan karya belakangan dari para muridnya.

“Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri” (Rm 16:23). Para pengikut “Jalan” mencakup para perempuan dan laki-laki yang berasal dari segala tingkat sosial – dari para budak sampai kepada pribadi-pribadi yang hidup di istana Kaisar (Flp 4:22). Kristus sungguh meruntuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan non-Yahudi, antara umat pilihan Allah dan orang-orang kafir yang hidup dalam kegelapan (non-Yahudi). Kenyataan ini saja seharusnya membuat kita tidak pernah merasa ragu bahwa Kristus dapat menyembuhkan Gereja-Nya pada hari ini.

Rm 16:25-27 adalah doksologi-akhir yang menurut para ahli, ditambahkan belakangan, meskipun tetap saja dimungkinkan bahwa Paulus sendirilah yang menyusunnya. Injil Paulus adalah proklamasi tentang Yesus sang Mesias tersalib yang dibangkitkan oleh Allah untuk menjadi Tuhan (Yunani: Kyrios), dan akan datang kembali pada akhir zaman untuk mengadili umat manusia. Siapa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan; yang tidak percaya tidak akan diselamatkan. Misteri yang diungkapkan kepada bangsa-bangsa adalah bahwa Kristus Yesus telah membawa keselamatan kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi. Semua orang dapat ikut ambil bagian dalan tindakan ilahi ini, “hikmat Allah” ini melalui “ketaatan iman” (Rm 16:26; lihat juga1Kor 1:24).

FA PENYAYANG BINANTANG‘Surat Paulus kepada jemaat di Roma’ ditutup dengan sebuah puji-pujian kepada Allah:“Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” (Rm 16:27). Seluruh hidup seorang Kristiani sejati akan mendorongnya untuk senantiasa memuji-muji Allah. Misalnya, “Nyanyian Saudara Matahari” dari Santo Fransiskus dari Assisi adalah sebuah litani puji-pujian. “Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik, milik-Mulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian. …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari; dia terang siang hari, melalui dia kami Kauberi terang …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang …… Saudara Angin …… Saudari Air …… Saudara Api …… Saudari kami Ibu Pertiwi …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun. Seorang pakar Kitab Suci, Paul Zilonka, CP mengatakan, bahwa hanya seorang Kristiani (sejati) yang dapat memahami frase terakhir tentang kematian dalam “Nyanyian Saudara Matahari” ini.

DOA: Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita (1Kor 15:57). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “SEMANGAT UNTUK MEMBERI” (bacaan untuk tanggal 7-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS