SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 6 November 2015) 

stdas0730Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Si bendahara berbuat curang, karena dia berteman dengan uang yang bukan miliknya. Kemudian Yesus berkata: “Tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik” (Luk 16:8). Apakah dalam hal ini Yesus menasihati kita untuk menjadi orang-orang yang tidak jujur? Sama sekali tidak! Mengapa? Karena Yesus menambahkan: “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang” (Luk 16:8).

Apa yang dikatakan Yesus seakan-akan adalah seperti berikut: “Setiap kamu adalah seorang administratur, seorang manajer, seorang pengelola, bukan seorang pemilik harta benda yang ada bersamamu. Hanya Tuhan Allah-lah sang Pemilik sesungguhnya dari kekayaanmu. Oleh karena itu, mengapa engkau tidak bertindak-tanduk seperti si bendahara dalam perumpamaanku, yang menjalin pertemanan dengan orang-orang lewat kemurahan-hatinya dengan uang sang pemilik?”

Pesan pokok dari perumpamaan Yesus ini adalah: “Apa yang kita punya sekarang bersifat temporer, dan sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Allah. Keberadaan kita sebagai pribadi bersifat permanen. Jika waktu kita habis, maka keberadaan kita yang bersifat internal-lah yang diperhitungkan.

Yesus memandang hidup seseorang dari segala segi, luar dan dalam. Ia memandang segala harta-benda yang kita akumulasikan – artinya segi luar – praktis sebagai tidak ada artinya, namun apa yang terjadi di dalam diri kita (segi dalam) akan tetap berada di dalam dan akan terus bertumbuh dalam diri kita sampai kekal-abadi.

O betapa bahagianya kita jika memiliki hikmat Yesus, sehingga tidak perlu lagi berputar-putar dalam jalan yang salah dan tanpa arah. Kita terlalu sering bertindak seakan-akan realitas diputar-balikkan, seakan-akan hal-hal yang menjadi urusan kita bersifat permanen, dan apa kita dan menjadi apa kita tidak terlalu penting bagi kita. Kita melihat sesama kita  juga seturut apa yang mereka miliki, bukan karena keberadaan mereka sebagai pribadi manusia. Kita melihat sukses-sukses duniawi apa saja yang berhasil mereka nikmati, dan kita membuat hal-hal eksternal yang sangat tidak penting itu menjadi standar penilaian kita. O betapa tololnya kita!

Kebenaran sejati terletak “di dalam” diri seseorang, namun hal itu memiliki banyak cara pengungkapan-luar juga. Kebenaran yang harus kita pegang dengan teguh adalah untuk menempatkan Allah sebagai yang pertama dan utama dalam segala hal karena segala sesuatu yang ada pada kita adalah “pinjaman” dari Allah, dan Dia saja yang berarti. Ini adalah kebenaran dari pemberian-diri, bukannya pemuasan-diri, karena ini adalah pelajaran yang diberikan Yesus kepada kita semua dan di mana-mana.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, kuduslah nama-Mu. Bapa, kami menyadari bahwa segala sesuatu yang kami miliki di dunia ini bersifat sementara dan bukan milik kami dalam artian sesungguhnya, melainkan milik-Mu. Oleh karena itu kami berketetapan hati, ya Allah, untuk menempatkan Engkau sebagai yang Pertama dan Utama dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA/MANAJER YANG BRILIAN” (bacaan tanggal 6-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS